get app
inews
Aa Text
Read Next : Lonjakan Trader Futures Kripto di Indonesia, Antara Euforia dan Bahaya Leverage

Prospek Investasi 2026 Lebih Kondusif, Seiring Penurunan Suku Bunga Global

Senin, 19 Januari 2026 | 21:40 WIB
header img
Head of Investment and Insurance Product, Consumer Banking Group PT Bank DBS Indonesia Djoko Sulistyo di peluncuran Pensiun Gak Susah, di Jakarta. Foto Elva

JAKARTA, iNewsTangsel.id - Memasuki awal tahun 2026, prospek ekonomi dan investasi global masih diwarnai ketidakpastian. Namun, sejumlah indikator mulai menunjukkan arah yang lebih konstruktif. Hal itu didorong oleh kebijakan moneter global yang semakin longgar. Salah satunya, adanya penurunan suku bunga di berbagai negara. 

Head of Investment and Insurance Product Consumer Banking Group PT Bank DBS Indonesia, Djoko Sulistyo menjelaskan,  berdasarkan pembaruan pandangan Chief Investment Officer (CIO) grup DBS yang dievaluasi secara berkala, prospek investasi tahun ini cenderung positif. 

“Optimisme ini tetap harus disikapi secara hati-hati. Karena ketidakpastian merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari dunia investasi, sehingga penilaian positif bersifat relatif,” kata Djoko pada acara peluncuran Kampanye Pensiun Gak Susah, di Jakarta, Senin (19/1/2026). 

Dia mengatakan, salah satu faktor utama yang menopang prospek ekonomi dan investasi pada 2026 adalah tren penurunan suku bunga yang dilakukan banyak negara melalui kebijakan bank sentral masing-masing. Pelonggaran moneter tersebut dinilai berpotensi mendorong kembali konsumsi dan aktivitas ekonomi.

“Faktor yang paling terlihat saat ini adalah banyaknya negara yang menurunkan suku bunga melalui bank sentralnya,” tegas Djoko.

Menurut dia, suku bunga yang lebih rendah membuat biaya pinjaman menjadi lebih murah. Sehingga mendorong masyarakat untuk meningkatkan konsumsi, baik untuk kebutuhan sehari-hari maupun pembelian aset jangka panjang seperti properti.

“Ketika suku bunga turun, cicilan menjadi lebih ringan. Ini bisa mendorong konsumsi, termasuk untuk pembelian rumah atau kebutuhan lainnya,” ungkapnya.

Diterangkan, sepanjang 2025, sebagian besar negara juga mulai melonggarkan kebijakan moneternya, meski masih terdapat beberapa pengecualian. Kondisi ini diharapkan berlanjut dan memberikan dampak positif pada perekonomian global.

“Peningkatan konsumsi masyarakat akan menciptakan efek berantai bagi perekonomian. Permintaan barang yang meningkat akan mendorong sektor manufaktur untuk meningkatkan produksi, yang pada akhirnya berdampak pada peningkatan pendapatan tenaga kerja,” 

Djoko menambahkan, jika momentum tersebut dapat terjaga, maka perekonomian global berpeluang bergerak ke arah yang lebih stabil dan berkelanjutan sepanjang 2026. Apalagi, Indonesia berpeluang mendapatkan manfaat dari pergeseran pertumbuhan global.

Editor : Elva Setyaningrum

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut