Lenong Kampung Te-Ko Hidupkan Kembali Seni Tradisi Betawi di Tengah Modernisasi
JAKARTA, iNewsTangsel.id - Di tengah pesatnya modernisasi ibu kota, perayaan HUT ke-499 Jakarta justru dimanfaatkan sebagai ruang refleksi untuk menjaga identitas budaya lokal. Melalui pertunjukan “Lenong Kampung Te-Ko”, Galeri Indonesia Kaya menghadirkan pendekatan berbeda: menghidupkan kembali seni tradisi Betawi agar tetap relevan bagi generasi muda.
Tidak sekadar hiburan, pertunjukan ini menjadi jembatan antara masa lalu dan masa kini. Kisah kehidupan masyarakat kampung yang diangkat terasa dekat dengan realitas urban saat ini, terutama ketika menghadapi tekanan ekonomi dan dinamika sosial kota besar. Nilai kebersamaan yang ditampilkan menjadi pesan kuat di tengah kehidupan metropolitan yang cenderung individualistis.
Program Director Indonesia Kaya, Renitasari Adrian, menegaskan bahwa pelestarian budaya harus berjalan seiring dengan perkembangan kota. Menurutnya, generasi muda perlu memiliki akses yang lebih luas terhadap seni tradisi agar tidak kehilangan akar budaya di tengah perubahan zaman.
“Transformasi Jakarta menuju era baru tidak boleh menghilangkan identitasnya. Justru melalui pertunjukan seperti ini, kami ingin mengajak masyarakat, khususnya anak muda, untuk kembali mengenal dan mencintai budaya Betawi,” ujarnya, Rabu (24/6/2026).
Disajikan dengan gaya khas lenong yang penuh humor dan improvisasi, pertunjukan berdurasi 60 menit ini tidak hanya menghibur, tetapi juga menyampaikan kritik sosial secara ringan. Kehadiran konflik dengan tokoh preman dalam cerita mencerminkan realitas yang kerap ditemui di masyarakat, sekaligus mengajarkan pentingnya keberanian dan solidaritas.
Sutradara Maulana Firdaus bersama 16 pemain berhasil mengemas cerita menjadi tontonan yang komunikatif dan mudah dipahami lintas generasi. Ditambah kehadiran bintang tamu Rudi Sipit, suasana panggung semakin hidup dan interaktif, memperkuat ciri khas lenong sebagai teater rakyat yang dekat dengan penonton.
Penulis naskah Riyanto RA menekankan bahwa lenong lahir dari kehidupan masyarakat Betawi, sehingga cerita yang diangkat harus tetap membumi. Ia berharap penonton tidak hanya tertawa, tetapi juga merenungkan nilai kebersamaan di tengah perubahan kota.
Sementara itu, Sanggar Oplet Robet sebagai penggagas pertunjukan terus berupaya menjaga eksistensi seni Betawi melalui berbagai karya. Pimpinan sanggar, Ramdani (Qubil AJ), menyebut panggung Galeri Indonesia Kaya menjadi kesempatan penting untuk memperkenalkan lenong kepada generasi baru.
Dengan rangkaian pertunjukan seni Betawi sepanjang Juni, perayaan HUT Jakarta tahun ini menunjukkan bahwa pelestarian budaya bisa dikemas secara segar dan relevan. Lenong Kampung Te-Ko pun menjadi bukti bahwa di tengah geliat kota menuju era modern, warisan budaya tetap memiliki ruang untuk hidup dan berkembang.
Editor : Hasiholan Siahaan