Abrasi Ancam Pesisir, 1.000 Bibit Mangrove Ditanam di Pantai Jaya Bahari
JAKARTA, iNewsTangsel.id - Ancaman abrasi di pesisir Kabupaten Karawang, Jawa Barat, mendorong berbagai pihak memperkuat upaya pemulihan ekosistem mangrove. Sebanyak 1.000 bibit mangrove ditanam di kawasan Pantai Jaya Bahari, Desa Pusakajaya Utara, Kecamatan Cilebar, beberapa waktu lalu. Penanaman tersebut dilakukan sebagai tanggung jawab sosial Unicharm Indonesia yang juga bertepatan dengan momentum Hari Mangrove Sedunia.
Kepala Bidang Pengendalian Pencemaran dan Keanekaragaman Hayati Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Kabupaten Karawang Agus Mustaqim mengatakan, isu abrasi dan pelestarian lingkungan adalah tantangan besar yang tidak bisa diselesaikan oleh pemerintah sendirian.
"Keberadaan mangrove memiliki peran penting sebagai benteng alami pelindung daratan dari gelombang sekaligus membantu menekan erosi dan abrasi. Oleh karena itu, kolaborasi strategis lintas sektor menjadi kunci utama dalam merealisasikan pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan," ujarnya, dalam keterangan di Jakarta, Selasa (15/9/2026).
Ia menjelaskan, selain menahan abrasi, mangrove berfungsi sebagai habitat berbagai biota, menjaga keanekaragaman hayati, serta menyerap dan menyimpan karbon.
"Namun, keberadaan mangrove di Indonesia menghadapi berbagai tekanan, mulai dari alih fungsi lahan, penebangan, pencemaran hingga kerusakan akibat abrasi," imbuhnya.
Ia berharap, penanaman 1.000 bibit di Pantai Jaya Bahari tidak berhenti pada kegiatan seremonial. Pertumbuhan tanaman akan dipantau secara berkala untuk memastikan bibit yang ditanam dapat bertahan dan berkembang menjadi kawasan mangrove yang berfungsi optimal.
Sementara itu, Direktur Unicharm Indonesia, Eiji Ito menambahkan, penanaman mangrove tersebut merupakan bagian dari upaya menjaga lingkungan di wilayah yang selama ini menjadi kawasan aktivitas industri perusahaan.
“Kami berharap upaya ini mampu membantu mereduksi laju abrasi pantai, memulihkan keseimbangan ekosistem kelautan, sekaligus memberikan rasa aman bagi warga sekitar,” katanya.
Ia mengungkapkan, pemulihan mangrove pada akhirnya bukan hanya persoalan menanam pohon, tetapi juga menjaga keberlanjutan kehidupan masyarakat yang bergantung pada kawasan pesisir.
"Keberhasilan rehabilitasi sangat ditentukan oleh perawatan tanaman, pengawasan kawasan, serta kolaborasi berkelanjutan antara pemerintah, masyarakat dan dunia usaha," imbuhnya.
Ia memaparkan, alasan pemilihan lokasi ini didasarkan pada kondisi riil di lapangan. Di mana, berdasarkan data Dinas Pekerjaan Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Kabupaten Karawang (2020), lebih dari 23 kilometer garis pantai di Karawang memiliki kondisi abrasi yang buruk.
"Kondisi itu membuat rehabilitasi mangrove menjadi salah satu langkah penting dalam menjaga kawasan pesisir," tegas Eiji Ito.
Editor: Elva Setyaningrum