Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Aa Text
Share:
Read Next : Indo Intertex ke 20 Hadirkan Pameran Tekstil dan Garmen Terbesar dan Terlengkap di Indonesia
Advertisement . Scroll to see content

Bisnis Printing Tak Lagi Andalkan Cetak Promosi

Selasa, 22 September 2026 | 22:17 WIB
  • author Elva
Bisnis Printing Tak Lagi Andalkan Cetak Promosi
Salah satu industri printing yang terfragmentasi ke berbagai kebutuhan. (Foto: Istimewa)

JAKARTA, iNewsTangsel.id - Industri percetakan menghadapi perubahan pola permintaan. Kebutuhan printing yang sebelumnya banyak bertumpu pada materi promosi, kini semakin terfragmentasi ke berbagai kebutuhan, mulai dari kemasan dan label usaha, perlengkapan event, kebutuhan korporasi, komunitas hingga personal.

‎"Perubahan tersebut membuat persaingan bisnis printing tidak lagi semata ditentukan oleh harga cetak. Kemampuan mengakomodasi pesanan dalam berbagai format, volume, material, teknik finishing, serta kecepatan pengerjaan menjadi faktor yang semakin penting," kata Senior Product Manager PrimaGraphia, Irmawati, Selasa (22/9/2026).

‎Ia menjelaskan, perubahan kebutuhan pelanggan terlihat dari semakin beragamnya produk yang dipesan. Pelanggan tidak selalu datang dengan kebutuhan produksi dalam jumlah besar, tetapi membutuhkan produk yang spesifik sesuai aktivitas.

‎“Pelanggan tidak hanya mempertimbangkan hasil cetak, tetapi juga membutuhkan pilihan produk yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan mereka,” ujar Irmawati.

‎Menurutnya, pola tersebut membuka ruang pertumbuhan bagi pemain yang mampu menggarap pasar secara lebih tersegmentasi. UMKM, misalnya, membutuhkan label, flyer, poster hingga materi branding toko. Sementara perusahaan dan penyelenggara event memiliki kebutuhan berbeda, seperti backwall, banner kain, lanyard, kartu identitas dan gelang tiket.

‎"Artinya, pasar printing semakin bergeser dari model bisnis yang mengandalkan satu jenis produk menuju portofolio yang lebih luas. Diversifikasi menjadi penting karena sumber permintaan datang dari sektor dan kebutuhan yang berbeda," imbuhnya.

‎Ia mengungkapkan, perubahan permintaan juga berdampak pada kebutuhan investasi teknologi. Ketika pelanggan membutuhkan variasi produk sekaligus pengerjaan dalam volume besar, kapasitas mesin menjadi bagian penting dari efisiensi operasional.

‎"Teknologi digital printing dengan kemampuan format besar dan kecepatan produksi tinggi memungkinkan pelaku industri menangani pesanan dengan karakter yang lebih beragam. Penggunaan teknologi seperti HP Indigo 10000, misalnya, mendukung kebutuhan cetak format B2 dan produksi dalam volume besar," katanya.

‎Sementara itu, dengan berkembangnya kebutuhan tekstil dan produk berbasis UV DTF memperluas aplikasi digital printing di luar produk berbasis kertas. Kondisi ini menunjukkan, investasi teknologi di industri printing tidak hanya berkaitan dengan peningkatan kualitas hasil cetak.

‎"Teknologi juga menjadi instrumen untuk memperluas jenis produk yang bisa diproduksi dan meningkatkan fleksibilitas kapasitas ketika permintaan berubah," tegasnya.

‎Irmawati menegaskan, selain diversifikasi produk dan teknologi, waktu pengerjaan menjadi aspek yang semakin menentukan dalam persaingan. Kebutuhan printing untuk event maupun aktivitas bisnis biasanya memiliki tenggat yang ketat sehingga keterlambatan produksi dapat berdampak langsung terhadap pengguna.

‎"Kami selalu memberikan kepastian waktu penyelesaian berdasarkan kesepakatan dengan pelanggan. Jadi, bukan sekadar janji. Ketika pelanggan membutuhkan waktu pengerjaan dua hari, kami berusaha menyelesaikan pesanan sesuai waktu yang telah disepakati,” urainya.

Editor: Elva Setyaningrum

Related News

Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.

Latest News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut