Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Aa Text
Share:
Read Next : Sungai Cimanceuri Menghitam, Jejak Pencemaran Ditelusuri
Advertisement . Scroll to see content

Literasi Anak Dimulai dari Akses terhadap Buku

Rabu, 07 Oktober 2026 | 21:07 WIB
  • author Elva
Literasi Anak Dimulai dari Akses terhadap Buku
Sebagian buku yang akan di pamerkan di BBW Jakarta 2026, pada 28 Oktober mendatangkan. Foto Elva

JAKARTA, iNewsTangsel.id -Ketersediaan bahan bacaan menjadi salah satu faktor penting dalam mendukung kualitas pendidikan. Namun, menghadirkan buku dalam jumlah besar belum otomatis membuat akses bacaan berkualitas dapat dinikmati secara merata oleh seluruh anak dan pelajar di Indonesia.

‎Persoalan akses tersebut kembali menjadi perhatian seiring satu dekade perjalanan Big Bad Wolf (BBW) di Indonesia. Pada puncak perayaan 10 tahun kehadirannya, BBW Jakarta 2026 akan berlangsung di ICE BSD, Tangerang, pada 28 Oktober hingga 1 November 2026.
‎
‎"Kegiatan tersebut menghadirkan jutaan buku internasional dari berbagai kategori. Kehadiran beragam bahan bacaan menjadi bagian dari upaya mempertemukan masyarakat, khususnya keluarga dan anak-anak, dengan sumber pengetahuan di luar lingkungan sekolah," kata Country Director Big Bad Wolf Books Indonesia, Marthius Wandi Budianto, di Jakarta, Rabu (7/10/2026).
‎
‎Ia menerangkan, perjalanan pameran ini selama satu dekade tidak terlepas dari keterlibatan masyarakat Indonesia sebagai pembaca. Jakarta menjadi penutup rangkaian perayaan satu dekade pameran ini di Indonesia.
‎
‎"Momentum tersebut sekaligus menjadi ruang bagi masyarakat untuk kembali berinteraksi dengan buku dan menemukan beragam cerita serta pengetahuan," imbuh Marthius.
‎
‎Sementara itu, Founder Big Bad Wolf Books Andrew Yap menambahkan, perjalanan pameran buku ini di Indonesia selama satu dekade berawal dari keinginan untuk membuat buku lebih mudah diakses masyarakat. Karena buku tidak hanya menjadi sumber informasi, tetapi juga membuka kesempatan bagi pembaca untuk memperoleh pengetahuan, inspirasi, dan perspektif baru.
‎
‎"Masih banyak cerita, pengetahuan, dan inspirasi yang menunggu untuk ditemukan melalui buku," tegasnya.
‎
‎Ia menjelaskan, dalam pendidikan anak, buku memiliki fungsi yang lebih luas daripada sekadar bahan pembelajaran. Buku dapat membantu anak mengembangkan kemampuan bahasa, memperluas pengetahuan, membangun imajinasi, sekaligus mengenal berbagai nilai kehidupan.
‎
‎"Karena itu, akses terhadap buku perlu dibangun sejak usia dini. Kebiasaan membaca yang terbentuk di rumah maupun sekolah dapat menjadi salah satu fondasi bagi proses belajar anak dalam jangka panjang," ungkapnya.
‎
‎Pada kesempatan yang sama, Author and Co-Founder Sidr Productions, Dr. Nousheen Zakaria (Little Umma), koleksi buku anak yang memperkenalkan nilai dan adab Islam melalui cerita yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Menurutnya, buku anak tidak hanya ditujukan untuk memberikan hiburan. Cerita dapat menjadi sarana bagi anak untuk mengenal nilai dan adab dengan cara yang sederhana serta menyenangkan.
‎
‎"Buku anak bukan hanya tentang cerita yang menyenangkan, tetapi juga tentang nilai-nilai yang dapat mereka bawa dalam kehidupan sehari-hari," katanya.
‎
‎Meski sekolah memiliki peran penting dalam menyediakan bahan bacaan, akses buku bagi anak tidak berhenti di ruang kelas. Ketersediaan perpustakaan, buku di lingkungan keluarga, ruang baca masyarakat, hingga distribusi buku ke berbagai daerah ikut menentukan kesempatan anak untuk berinteraksi dengan bacaan.
‎
‎"Karena itu, pemerataan akses menjadi tantangan tersendiri dalam membangun budaya membaca. Anak yang tinggal di wilayah dengan pilihan bahan bacaan terbatas dapat memiliki pengalaman membaca yang berbeda dibandingkan anak yang berada di kawasan dengan akses buku lebih mudah, "
‎
Chief Retail Officer Lion Parcel Febri Andika mengungkapkan, distribusi menjadi salah satu bagian penting dalam memperluas akses terhadap buku. Jarak dan lokasi seharusnya tidak menjadi penghalang masyarakat untuk mendapatkan bahan bacaan.
‎
‎"Kami ingin memastikan, akses terhadap buku tidak terbatas oleh jarak dan lokasi ataupun besar dan kecilnya kota," ujarnya.
‎
‎Ia menegaskan, persoalan literasi pada akhirnya bukan hanya tanggung jawab sekolah. Keluarga, masyarakat, pelaku penerbitan, distribusi, hingga berbagai pihak yang berkaitan dengan ekosistem buku memiliki peran dalam menciptakan lingkungan yang mendukung kebiasaan membaca.
‎
‎"Kegiatan ini menjadi salah satu momentum untuk melihat kembali pentingnya akses terhadap buku dalam pendidikan. Jutaan buku yang tersedia dalam satu kegiatan memang dapat membuka pilihan bacaan bagi masyarakat," tutupnya. 

Editor: Elva Setyaningrum

Related News

Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.

Latest News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut