Sejarah Komunitas Hindu Bali di Bolaang Mongondow
Keberadaan komunitas Hindu Bali di Kabupaten Bolaang Mongondow memiliki akar sejarah yang panjang, berkaitan dengan erupsi Gunung Agung di Bali pada tahun 1963. Bencana tersebut menyebabkan ribuan warga Bali mencari tempat tinggal baru. Dalam program transmigrasi yang digagas pemerintah saat itu, sekitar 1.352 warga Bali, terutama dari Karangasem, Buleleng, Badung, dan Bangli, menetap di lembah Dumoga.
Para transmigran ini membuka lahan pertanian dari hutan lebat dan mendirikan Desa Werdhi Agung sebagai permukiman pertama mereka. Seiring waktu, desa ini berkembang menjadi pusat komunitas Hindu Bali di Bolaang Mongondow yang tetap mempertahankan budaya dan tradisi leluhur mereka.
Hingga kini, komunitas Hindu Bali di Werdhi Agung masih merayakan hari-hari besar keagamaan seperti Galungan, Kuningan, dan Nyepi dengan penuh semangat. Pawai ogoh-ogoh menjadi bagian dari upaya mereka melestarikan warisan budaya di perantauan sekaligus mempererat persaudaraan dengan masyarakat setempat.
Kunjungan Gubernur Sulut dan rombongan ke acara pelepasan ogoh-ogoh ini menunjukkan dukungan pemerintah daerah terhadap keberagaman budaya yang hidup dan berkembang di Sulawesi Utara.
Editor : Hasiholan Siahaan
Artikel Terkait