TANGSEL, iNewsTangsel.id - Pertumbuhan kebutuhan listrik di Asia Tenggara menjadi salah satu isu utama yang dibahas dalam Enlit Asia dan MKI Electricity Connect 2026 yang resmi dibuka di Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD City, Tangerang Selatan.
Forum yang berlangsung hingga 24 September 2026 itu mempertemukan pemerintah, regulator, perusahaan utilitas, pelaku industri, investor, akademisi, dan penyedia teknologi untuk membahas ketahanan sistem energi di tengah meningkatnya kebutuhan listrik kawasan.
Portfolio Director Enlit Asia–Clarion Events Simon Hoare mengatakan pertumbuhan ekonomi dan industri turut mendorong permintaan listrik, termasuk dari perkembangan pusat data dan infrastruktur digital.
“Permintaan listrik di Asia Tenggara terus meningkat, didorong oleh pertumbuhan ekonomi dan industri, serta perkembangan pesat di sektor seperti data center dan infrastruktur digital,” kata Simon, Rabu (23/9/2026).
Menurut dia, peningkatan kebutuhan tersebut berlangsung bersamaan dengan penambahan kapasitas energi terbarukan, penguatan jaringan listrik, dan diversifikasi teknologi energi. Kondisi itu membuat pengembangan sistem ketenagalistrikan yang andal menjadi tantangan penting bagi negara-negara ASEAN.
Enlit Asia dan MKI Electricity Connect 2026 mengusung tema “Powering Regional Sovereignty, Securing Energy Systems Resilience”. Pembahasan diarahkan pada penguatan ketahanan energi, modernisasi jaringan, transisi energi, digitalisasi, serta kerja sama ketenagalistrikan lintas negara.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia membuka kegiatan tersebut bersama Simon Hoare, Direktur Utama PT PLN (Persero) Darmawan Prasodjo, dan Direktur Distribusi PT PLN Arsyadany Ghana Akmalaputri.
Selama tiga hari, agenda mencakup Strategic Summit dengan empat jalur pembahasan, yakni Grid Modernisation, Clean & Thermal Generation, Powering Industries & Decarbonisation, serta Digitalisation & AI.
Sejumlah forum khusus juga membahas kebutuhan energi industri, investasi energi bersih, pengembangan energi nuklir, serta kebutuhan listrik untuk pusat data.
Penyelenggara menyebut kegiatan tahun ini diikuti lebih dari 11.000 profesional sektor energi, sekitar 280 exhibitor internasional, dan lebih dari 300 pembicara. Pertemuan tersebut juga mencakup forum kebijakan, pameran teknologi, sesi berbagi pengetahuan, dan business matching.
Pembahasan selama kegiatan diharapkan menghasilkan pertukaran pengalaman dan gagasan mengenai pengembangan infrastruktur listrik yang mampu mengikuti pertumbuhan kebutuhan energi sekaligus menghadapi perubahan teknologi dan percepatan transisi energi di Indonesia serta kawasan ASEAN.
Editor : Hasiholan Siahaan
Artikel Terkait
