JAKARTA, iNewsTangsel.id — Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Kehutanan resmi meluncurkan Layanan Dana Masyarakat Forestry and Other Land Use (FOLU) Net Sink 2030 Periode Kelima di Jakarta, Selasa (6/10/2026). Mewakili Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni, Wakil Menteri Kehutanan Rohmat Marzuki membuka secara resmi program yang mengalokasikan anggaran senilai Rp20 miliar untuk 300 kelompok masyarakat tersebut.
Layanan Dana Masyarakat ini merupakan skema pendanaan berkelanjutan hasil kerja sama Indonesia dan Kerajaan Norwegia melalui mekanisme Result-Based Contribution (RBC). Dana disalurkan oleh Kemenhut melalui Badan Pengelola Dana Lingkungan Hidup (BPDLH) untuk mendukung pelestarian hutan, ketahanan iklim, serta kesejahteraan warga di tingkat tapak.
"Pada hari ini, kita melanjutkan langkah yang sangat strategis tersebut dengan meluncurkan Layanan Dana Masyarakat FOLU Net Sink 2030 Periode Kelima dengan alokasi dana sebesar Rp 20 Miliar yang ditargetkan dapat menjangkau sebanyak 300 kelompok masyarakat,” ujar Wakil Menteri Kehutanan Rohmat Marzuki dalam sambutannya.
Pada periode kelima ini, penyaluran dana difokuskan pada tiga fokus utama, yaitu FOLU Biodiversity yang mendukung pelestarian keanekaragaman hayati kawasan hutan, FOLU Goes to School yang berfokus pada edukasi serta pelibatan aktif generasi muda dalam aksi lingkungan, dan FOLU Terra yang bertujuan meningkatkan ekonomi serta kesejahteraan masyarakat berbasis lingkungan. Hingga periode keempat, skema ini telah menyalurkan total pendanaan sekitar ±Rp29,081 miliar kepada 863 kelompok masyarakat dengan 49.653 penerima manfaat di 36 provinsi.
Dukungan penuh disampaikan Ambassador Designate Norwegia untuk Indonesia, H.E. Kaja Glomm. Ia menilai hutan Indonesia memiliki peran vital secara global dan keberhasilan pengelolaannya sangat bergantung pada masyarakat yang hidup di sekitar kawasan tersebut. Kaja Glomm menyebut keberadaan masyarakat adat, pemuda, dan organisasi sipil membawa pengetahuan praktis yang mempermudah aksi iklim langsung di lapangan.
"Norwegia sangat bangga dapat mendukung ambisi iklim dan kehutanan Indonesia melalui kemitraan jangka panjang kami. Sejauh ini, melalui kontribusi berbasis hasil, kami telah menyalurkan US$216 juta untuk mendukung hasil terverifikasi Indonesia dalam mengurangi emisi akibat deforestasi dan degradasi hutan. Kontribusi berbasis hasil ini mendukung rencana operasional FOLU Net 2030 Indonesia," ujar Kaja Glomm.
Sementara itu, Direktur Utama BPDLH Joko Tri Haryanto menegaskan bahwa pencapaian program ini tidak sekadar diukur dari besaran nominal dana yang disalurkan, melainkan dampak nyatanya bagi masyarakat lokal agar tidak hanya menjadi objek kebijakan, tetapi juga aktor utama solusi iklim.
“Bagi BPDLH, capaian Layanan Dana Masyarakat FOLU Net Sink 2030 bukan hanya tentang angka yang telah disalurkan. Bagaimana dana karbon dapat dirasakan hingga ke tingkat tapak merupakan hal yang lebih utama. Dukungan pendanaan ini dapat menjadi pemantik perubahan besar yang dapat menumbuhkan semangat, membangun kapasitas, dan membuktikan bahwa masyarakat memiliki kemampuan untuk mengelola sumber daya dan menjaga lingkungan,” ujar Joko Tri Haryanto.
Guna menjaga keberlanjutan ekonomi, BPDLH juga menghadirkan Fasilitas Dana Bergulir (FDB) sebagai pembiayaan mikro bagi kelompok perhutanan sosial dan agroforestri. Tak berhenti di pembiayaan, BPDLH turut menandatangani Nota Kesepakatan bersama PT Jebe Trading Indonesia (JB Cocoa) sebagai penyerap hasil panen (offtaker) dan PT Rainforest Indonesia (Rainforest Alliance) sebagai mitra pendamping pertanian berkelanjutan.
"Kita mencoba untuk menciptakan satu mata rangkai terintegrasi. Jadi dari petani sampai ke pasar, itu kita bikin satu closed loop ekosistem,” imbuh Dirut BPDLH.
Editor : Vitrianda Hilba Siregar
Artikel Terkait
