KOTA TANGERANG, iNewsTangsel.id -Pengolahan sampah organik sejak dari sumbernya menjadi salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk mengurangi timbunan sampah di tempat pemrosesan akhir (TPA). Selain menekan volume sampah yang diangkut, langkah ini berpotensi mengurangi bau tidak sedap, pencemaran lingkungan, dan emisi gas rumah kaca akibat pembusukan sampah.
Persoalan tersebut menjadi perhatian dalam kunjungan Wali Kota Tangerang Sachrudin meninjau mesin pengolah sampah organik menjadi kompos, Somya. Mesin hasil kolaborasi PT Enviro Mas Sejahtera dan PT Cipta Perdana Lancar Tbk (PART) diciptakan untuk mendukung pengolahan sampah organik.
"Teknologi ini kami perkenalkan sebagai salah satu alternatif penanganan sampah dari hulu sebelum dibuang ke tempat penampungan atau TPA," kata Direktur Utama PT PART Hamim, Rabu (14/10/2026).
Menurutnya, sampah organik, seperti sisa makanan dan bahan pangan, mudah membusuk ketika tercampur dan menumpuk bersama sampah lainnya. Proses pembusukan dapat menimbulkan bau serta menghasilkan cairan yang berpotensi mencemari tanah dan air apabila tidak dikelola dengan baik.
"Dalam kondisi minim oksigen, pembusukan sampah organik juga dapat menghasilkan gas metana yang berkontribusi terhadap pemanasan global. Karena itu, pemilahan dan pengolahan sampah sejak tingkat rumah tangga menjadi bagian penting dalam sistem pengelolaan sampah yang berkelanjutan," terangnya.
Ia menjelaskan, mesin ini dikembangkan untuk mengolah sampah organik menjadi kompos dengan waktu proses yang diklaim sekitar delapan jam. Teknologi tersebut juga mampu menyusutkan bobot sampah hingga 95 persen, terutama melalui pengurangan kandungan air.
"Tapi tingkat penyusutan bergantung pada jenis dan kondisi sampah yang diolah. Berkurangnya bobot akibat penguapan air tidak berarti seluruh sampah berubah menjadi kompos. Hasil pengolahan dan material yang tersisa tetap perlu ditangani sesuai karakteristiknya," ujarnya.
Ia menegaskan, kualitas kompos juga perlu diperhatikan sebelum digunakan untuk menyuburkan tanah atau tanaman. Pengujian dan pengelolaan yang tepat diperlukan untuk memastikan hasil pengolahan sesuai dengan peruntukannya.
"Teknologi ini tidak hanya dinilai dari kecepatan pengolahan atau besarnya penyusutan sampah, tetapi juga dari efektivitasnya dalam mengurangi dampak lingkungan secara keseluruhan," tegasnya.
Editor : Elva Setyaningrum
Artikel Terkait
