KOTA TANGERANG, iNewsTangsel.id -Kekeringan mulai berdampak pada warga RW 04, Kelurahan Panunggangan Utara, Kecamatan Pinang, Kota Tangerang. Sejak awal Oktober 2026, sejumlah sumur warga mengering dan berdampak warga kesulitan mendapatkan air bersih untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Kondisi tersebut memaksa warga mencari sumber air alternatif, mulai dari mengambil air di masjid dan musala hingga membeli air isi ulang.
Ketua RW 04 Panunggangan Utara, Asriyanto mengatakan laporan pertama mengenai sumur mengering diterimanya pada awal Oktober. Saat itu, sekitar 15 hingga 20 rumah di RT 03 mulai kehilangan sumber air dari sumur yang menggunakan mesin air karena sudah kering
"Laporan kekeringan kemudian bertambah di RT 01, RT 07 dan RT 08. Jadi, sedikitnya ada empat RT wilayah kami yang telah mengalami kekeringan," ujarnya, Senin (19/10/2026).
Menurut Asriyanto, kondisi tahun ini tergolong lebih parah dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Kekeringan mulai mengganggu pemenuhan kebutuhan dasar rumah tangga, seperti memasak, mandi, mencuci, dan membersihkan rumah.
"Bantuan air bersih melalui mobil tangki pemerintah memang mulai berdatangan, tetapi frekuensi distribusinya belum mampu memenuhi kebutuhan warga setiap hari," ucapnya.
Ia mengaku, sebelum bantuan air bersih datang, warga mengandalkan air dari masjid atau musala yang masih memiliki persediaan memadai. Sebagian warga harus mengangkut air menggunakan galon untuk dibawa pulang ke rumah.
"Kesulitan air juga membuat sebagian warga harus mencari tempat lain untuk mandi," terangnya.
Ia menegaskan, pihaknya telah berkoordinasi dengan pihak kelurahan untuk mendata warga terdampak kekeringan. Laporan tersebut kemudian diteruskan kepada Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD).
"Bantuan air bersih melalui mobil tangki mulai disalurkan ke sejumlah RT di RW 04. Distribusi telah menjangkau RT 02, RT 03, RT 07, dan RT 08. Namun, jumlah tangki yang masuk masih terbatas. Dua hari awal distribusi, baru sekitar tiga mobil tangki yang memasok air ke wilayahnya," katanya.
Ia menilai, distribusi bantuan perlu dilakukan secara lebih teratur mengingat kebutuhan air bersih berlangsung setiap hari. Untuk itu, warga mengusulkan penyediaan tangki penampungan air atau toren di lingkungan terdampak.
"Dengan penampungan permanen dapat memudahkan warga mendapatkan air tanpa harus menunggu mobil tangki datang atau harus ambil dari masjid atau musala lagi. Kami juga berharap pemerintah mempertimbangkan pembangunan sumur umum sebagai sumber air alternatif bagi masyarakat ketika kekeringan kembali terjadi," terangnya.
Salah satu warga, RT 02 RW 04, Wartani mengungkapkan, selain menguras tenaga, kondisi tersebut membuat warga harus mengatur penggunaan air agar persediaan yang diperoleh cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
"Kami juga membeli air galon dan air isi ulang untuk kebutuhan sehari-hari. Namun, upaya tersebut belum sepenuhnya mengatasi persoalan karena pasokan air dari penjual tidak selalu tersedia setiap hari," ucapnya.
Editor : Elva Setyaningrum
Artikel Terkait
