Menelusuri Jejak Atlantis di Indonesia, Buku Karya Ilmuwan Brasil Kembali Picu Perdebatan
JAKARTA,iNewsTangsel.id- Mungkinkah Indonesia adalah rumah bagi Atlantis yang hilang? Sebuah gagasan berani kembali mencuri perhatian dalam forum diskusi terbuka bertajuk Bedah Buku Atlantis: The Lost Continent Finally Found, yang digelar di Jakarta.
Buku karya ilmuwan asal Brasil, Prof. Arysio Santos ini menempatkan kawasan Nusantara, khususnya dataran Sunda, sebagai lokasi paling masuk akal dari benua legendaris Atlantis yang digambarkan oleh Plato lebih dari dua ribu tahun silam.
Asisten riset utama Prof. Santos dan Presiden Atlantis Publications, Frank Joseph Hoff, memaparkan berbagai bukti dan data penunjang, mulai dari peta topografi purba, citra satelit Laut Jawa dan Selat Sunda, hingga kesaksian budaya berupa mitos banjir besar yang tersebar luas di berbagai daerah seperti Kalimantan, Nusa Tenggara, dan Sumatra.
“Indonesia tidak hanya cocok secara geologis, tetapi juga kaya dengan narasi lokal yang sejalan dengan deskripsi kehancuran dan tenggelamnya Atlantis,” ujar Hoff dalam keterangannya, belum lama ini.
Dia pun menjelaskan, buku yang merupakan hasil penelitian lintas disiplin selama lebih dari 30 tahun. Prof. Santos menggabungkan geologi, linguistik, sejarah kuno, arkeologi, hingga paleoklimatologi dalam menyusun teorinya.
Salah satu temuan kunci adalah analisis terhadap letusan gunung purba Krakatau, yang diyakini sebagai pemicu bencana besaryang menenggelamkan sebagian daratan Sunda.
Dia menjelaskan lebih dari 30 variabel geografis dan geologis dianalisis, termasuk data mengenai lapisan tanah, aktivitas tektonik, persebaran flora-fauna purba, hingga jejak budayaagraris kuno.
"Hasilnya, tingkat kesesuaian tertinggi dengan Indonesia, khususnya dataran Sunda dibandingkan lokasi-lokasi lain yang pernah diajukan sebagai calon Atlantis, seperti Laut Mediterania, Afrika, atau Karibia,” ujar dia.
Dia menambahkan, kendati teori ini masih memicu perdebatan di kalangan ilmuwan arkeologi arus utama, banyak pihak menilai, gagasan seperti ini penting untuk mendorong masyarakat melihat sejarah dari berbagai sudut pandang.
“Bagi kami, buku ini bukan sekadar mitos. Ini adalah pintu gerbang untuk menggali ulang apa yang kita tahu tentang peradaban kita sendiri. Sehingga dibutuhkan peran generasi muda dalam menjadikan teori ini sebagai pemicu eksplorasi sejarah dan kebanggaan terhadap kekayaan Nusantara,” tutup Hoff.
Editor : Hasiholan Siahaan