get app
inews
Aa Text
Read Next : Lebih Dari Sekedar Kompetisi Soyalympic2025 Buka Pintu Edukasi Asupan Gizi Anak 

Waspada RSV! Infeksi Ringan yang Bisa Berujung Fatal pada Bayi Prematur

Jum'at, 21 November 2025 | 08:40 WIB
header img
Dokter Spesialis Anak Subspesialis Neonatologi, Prof. Rinawati Rohsiswatmo sedang melakukan pemeriksaan medis pada bayi prematur. Foto Ist

JAKARTA, iNewsTangsel.id - Tingkat penularan infeksi Respiratory Syncytial Virus (RSV) pada anak-anak Indonesia masih tinggi, terutama bayi berusia di bawah dua tahun. Meski sering muncul dengan gejala ringan mirip flu, infeksi ini dapat berkembang menjadi kondisi berat yang mengancam nyawa, khususnya pada bayi prematur yang memiliki sistem pernapasan rentan.

Dokter Spesialis Anak dan Konsultan Respirologi Anak dari Universitas Padjadjaran, Prof. Cissy Rachiana Sudjana Prawira menjelaskan, hampir semua anak di dunia pernah terpapar RSV sebelum usia dua tahun. Penularan umumnya terjadi di lingkungan luar rumah, seperti sekolah dan tempat penitipan anak, lalu dibawa pulang dan menyebar ke anggota keluarga lainnya.

“Virus ini dapat berpindah lewat percikan batuk atau bersin, dan menempel pada permukaan keras. Lalu, virus itu masuk ketika seseorang menyentuh mata, hidung, atau mulut,” kata Prof. Cissy pada Hari Pneumonia Sedunia dan Hari Prematur Sedunia, di Jakarta, Kamis (20/11/2025). 

Dia menerangkan, RSV dapat menyebabkan dua infeksi serius, yaitu bronkiolitis dan pneumonia. Keduanya menyerang saluran pernapasan dan dapat memicu sesak berat pada bayi. Gejala awal sering kali tidak mencurigakan, yaitu pilek, batuk, demam, mirip flu atau COVID-19. 

“Sehingga banyak orang tua tidak menyadari, infeksi telah berkembang ke paru. Jika napas bayi cepat dan terdengar mengi, itu tanda infeksinya sudah sampai paru,” ungkap Prof. Cissy.

Menurutnya, RSV tidak memiliki obat khusus. Perawatan hanya bersifat suportif, seperti pemberian cairan, obat penurun demam, terapi oksigen, hingga bantuan ventilator pada kasus tertentu. 

“Hingga kini, vaksin RSV untuk anak juga belum tersedia. Namun, upaya pencegahan bisa dilakukan dengan menjaga kebersihan tangan, menggunakan masker, membersihkan permukaan benda, serta menghindari kontak dengan orang sakit,” imbuhnya. 

Sementara itu, Dokter Spesialis Anak Subspesialis Neonatologi, Prof. Rinawati Rohsiswatmo menambahkan, RSV yang menyerang bayi prematur tidak hanya menyebabkan gangguan napas akut, tetapi juga kerusakan permanen pada paru dan mengakibatkan asma. 

“Indonesia mencatat sekitar 675.000 kelahiran prematur setiap tahun, menjadikannya negara dengan angka kelahiran prematur tertinggi kelima di dunia. Kondisi ini membuat jutaan bayi berada dalam kelompok risiko tinggi terhadap infeksi RSV,” terangnya. 

Untuk itu, lanjutnya, pencegahan harus diperkuat, termasuk imunisasi pasif menggunakan antibodi monoklonal palivizumab. Imunisasi pasif ini diberikan lewat suntikan, sudah siap pakai, dan bisa langsung bekerja tanpa menunggu respon imun. 

“Namun, akses dan biaya masih menjadi tantangan besar. Makanya, kami berharap kebijakan nasional ke depan dapat melindungi bayi-bayi prematur agar tidak terancam oleh infeksi RSV,” ujarnya. 

Pada kesempatan yang sama, Medical Director AstraZeneca Indonesia, dr. Feddy mengungkapkan, untuk kelompok berisiko tinggi, pencegahan dapat dilakukan melalui imunisasi pasif menggunakan antibodi monoklonal palivizumab. 

“Cara kerja antibodi ini adalah menetralkan virus RSV agar tidak masuk ke sel paru,” ucap dr. Feddy. 

Dia menyebutkan, palivizumab telah terbukti menurunkan kejadian RSV sebesar 75–82 persen, mengurangi risiko rawat inap hingga 55 persen, dan memperpendek durasi perawatan rumah sakit hingga 56 persen.

“Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) juga telah merekomendasikan penggunaan palivizumab bagi bayi prematur dan kelompok risiko tinggi lainnya. Namun akses dan biaya menjadi tantangan yang masih perlu dibenahi agar perlindungan ini dapat dinikmati secara lebih luas,” tutup dr. Feddy. 

Editor : Elva Setyaningrum

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut