get app
inews
Aa Text
Read Next : Maling Todongkan Senpi saat Gasak Motor di Parkiran SDIT di Tangerang, Warga Dibuat Tak Berkutik!

Lupus Banyak Menyerang Perempuan Usia Produktif, Ini Penjelasan Dokter

Senin, 15 Desember 2025 | 16:27 WIB
header img
Ilustrasi penyakit lupus. Foto Ist

TANGERANG, iNewsTangsel.id - Lupus atau Systemic Lupus Erythematosus (SLE) merupakan penyakit autoimun kronis yang meski tergolong langka, berdampak besar terhadap kualitas hidup penderitanya. Penyakit ini paling sering menyerang perempuan usia produktif, yakni antara 20 hingga 40 tahun.

Spesialis Penyakit Dalam Subspesialis Alergi Imunologi, RS Premier Bintaro, dr. Santi Sumihar R. Parhusip menjelaskan, di Amerika Serikat, lupus jauh lebih sering terjadi pada perempuan dibandingkan laki-laki. Dengan perbandingan sekitar 9–14 : 1, terutama pada kelompok usia 20–40 tahun. 

“Di Indonesia, data rumah sakit tahun 2010, kasus lupus menyumbang sekitar 10,5% kunjungan pasien reumatologi. Angka yang cukup bermakna meskipun penyakit ini tergolong langka,” kata dr. Santi pada Internal Medicine Update and Education bersama RS Premier Bintaro dan Perhimpunan Dokter Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI) Cabang Banten Tangerang, di Gading Serpong, Minggu (14/12/2025).

Dia mengungkapkan, hingga saat ini, penyebab pasti lupus belum diketahui. Namun, para ahli sepakat lupus terjadi akibat kombinasi faktor genetik, hormon, dan lingkungan. 

“Salah satu faktor utama adalah hormon estrogen, yang berperan dalam mengatur sistem kekebalan tubuh dan diduga menjadi alasan mengapa lupus lebih banyak menyerang perempuan,” imbuhnya. 

Selain hormon, lanjut dr. Santi, paparan sinar ultraviolet, infeksi virus atau bakteri, serta obat-obatan tertentu juga dapat memicu reaksi autoimun. 

“Kondisi ini ketika sistem kekebalan tubuh justru menyerang jaringan sendiri,” tegasnya. 

Menurut dia, penyakit ini sering kali muncul dengan gejala ringan, seperti ruam kulit atau nyeri sendi. Namun, kondisi ini tidak boleh dianggap sepele. 

“Studi menunjukkan, lebih dari separuh pasien dengan gejala ringan dapat berkembang menjadi lupus dengan keterlibatan organ yang lebih berat, seperti ginjal, otak, atau darah,” ujarnya. 

Bahkan, ungkap dia, pasien yang awalnya tampak stabil tetap berisiko mengalami perburukan penyakit seiring waktu. Sehingga pemantauan jangka panjang sangat diperlukan.

“Meski belum dapat disembuhkan, lupus dapat dikendalikan dengan pengobatan dan pemantauan yang tepat. Deteksi dini, kepatuhan berobat, serta edukasi pasien menjadi kunci untuk mencegah komplikasi dan menjaga kualitas hidup penderita,” pungkas dr. Santi. 

Editor : Elva Setyaningrum

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut