Butuh 385 Ribu Talenta Digital Setiap Tahun, Komdigi Dorong Kemandirian Teknologi AI
JAKARTA, iNewsTangsel.id - Di tengah pesatnya perkembangan kecerdasan artifisial (AI), kebutuhan sumber daya manusia (SDM) di bidang digital di Indonesia terus meningkat. Namun, kesenjangan antara kebutuhan dan ketersediaan tenaga terampil justru semakin melebar. Karena setiap tahunnya, Indonesia membutuhkan sekitar 385 ribu talenta digital.
Sekretaris Badan Pengembangan SDM (BPSDM) Komunikasi dan Digital, Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi), I Nyoman Adhiarna mengungkapkan, angka tersebut menjadi tantangan besar untuk Indonesia untuk mempercepat pengembangan kemandirian teknologi AI nasional.
“Jika kebutuhan ini tidak segera dipenuhi, Indonesia berisiko menjadi pasar tenaga kerja bagi SDM asing,” katanya saat Indonesia Human Capital Brilliance Awards (IHCBA) 2025 untuk Perusahaan yang Lakukan Transformasi SDM Berbasis AI di Jakarta, Jumat (23/1/2026).
Dia menjelaskan, negara seperti India, misalnya, dinilai siap mengisi kekosongan tersebut dengan tenaga terampilnya. Kondisi ini berpotensi membuat talenta lokal semakin terpinggirkan di negeri sendiri.
“Oleh karena itu, pengembangan talenta digital tidak dapat dibebankan pada satu kementerian saja, melainkan menjadi tanggung jawab bersama lintas kementerian, dunia pendidikan, industri, dan pemangku kepentingan lainnya,” tegasnya.
Menurutnya, penguasaan teknologi AI saat ini menjadi faktor strategis dalam persaingan global. Negara-negara besar, seperti Amerika Serikat dan Tiongkok berlomba mengembangkan teknologi AI global ntuk memperkuat posisi ekonomi dan geopolitiknya.
“Tiongkok telah mengembangkan model AI seperti DeepSeek. Sedangkan, India membangun ekosistem AI model generatif dan platform AI sendiri. Makanya, Indonesia, tidak boleh hanya menjadi penonton. Indonesia harus mengejar ketertinggalan dan memiliki model AI sendiri,” paparnya.
Dia mengungkapkan, kondisi ini menjadi sinyal kuat, Indonesia juga perlu bergerak cepat agar tidak semakin tertinggal. Apalagi, Indonesia memiliki modal penting dalam pengembangan AI, yakni data. Data yang dihasilkan masyarakat Indonesia, termasuk dari aktivitas digital dan media sosial memiliki nilai strategis tinggi bagi pengembangan AI domestik.
“Aktivitas masyarakat di ruang digital dan media sosial menghasilkan data dalam jumlah besar yang sangat berharga untuk melatih dan menyempurnakan model AI. Namun, tanpa pengelolaan dan platform nasional, data tersebut justru lebih banyak dimanfaatkan oleh perusahaan teknologi global,” terangnya.
Dia mengingatkan, agar Indonesia tidak hanya menjadi pasar bagi platform digital global. Data nasional perlu dikelola dan dimanfaatkan untuk menciptakan teknologi AI buatan dalam negeri yang relevan dengan kebutuhan masyarakat Indonesia.
“Untuk mendorong kemandirian AI, kamj sudah menjalankan program AI Talent Factory (AITF). Program ini dirancang sebagai pelatihan AI tingkat lanjut, bukan sekadar pemanfaatan AI generatif, tetapi membekali peserta dengan kemampuan membangun fondasi dan model AI secara mandiri,” imbuhnya.
Dia memaparkan, AITF menyasar mahasiswa tingkat akhir yang diseleksi secara ketat dan memiliki kualifikasi unggul. Para peserta dilatih untuk mengembangkan model AI sendiri, serupa dengan proses penciptaan model bahasa besar. Namun, dengan pendekatan dan konteks Indonesia agar lebih relevan dengan kebutuhan nasional.
“Program ini telah berjalan selama enam bulan dan bekerja sama dengan tiga perguruan tinggi negeri, dengan sejumlah lulusan yang kini siap berkontribusi di ekosistem AI nasional,” ucapnya.
Selain pelatihan tingkat lanjut, pemerintah juga mendorong literasi AI dasar bagi masyarakat luas melalui kerja sama dengan berbagai perusahaan. Pelatihan ini mencakup kecakapan digital dasar hingga pemanfaatan AI untuk meningkatkan produktivitas sehari-hari.
“Melalui berbagai inisiatif tersebut, pihaknya berharap Indonesia tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi mampu bertransformasi menjadi produsen AI yang berdaulat, berdaya saing, dan mampu memenuhi kebutuhan nasional di era ekonomi digital,” tutupnya.
Editor : Elva Setyaningrum