get app
inews
Aa Text
Read Next : Belanja Jadi Tradisi Ramadan, Program BINA Targetkan Transaksi Rp53,38 Triliun

Dibalik Harga Makanan Murah, Ada Biaya Siluman yang Mengancam Ekonomi Indonesia!

Rabu, 28 Januari 2026 | 05:52 WIB
header img
Harga makanan yang terjangkau di pasar sering kali dianggap sebagai keuntungan bagi konsumen, namun kenyataannya menyimpan beban finansial yang sangat masif. (Foto: WRI)

JAKARTA, iNewsTangsel - Harga makanan yang terjangkau di pasar sering kali dianggap sebagai keuntungan bagi konsumen, namun kenyataannya menyimpan beban finansial yang sangat masif. Di balik label harga murah tersebut, terdapat rangkaian dampak jangka panjang terhadap kesehatan dan lingkungan yang tidak pernah tercantum dalam struk belanja.

Hasil riset Koalisi Sistem Pangan Lestari (KSPL) mengungkap fakta mengejutkan yang menunjukkan bahwa biaya tersembunyi sistem pangan Indonesia diperkirakan menembus angka USD210,7 hingga USD622,3 miliar. Nilai fantastis ini setara dengan 28,5 hingga 45,4 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia pada tahun 2023 yang lalu.

KSPL bersama WRI Indonesia dalam laporan terbarunya berjudul The Hidden Costs of Indonesia’s Food System membedah permasalahan ini. Laporan tersebut menyoroti bagaimana sistem pangan nasional saat ini menimbulkan beban tidak langsung yang sangat berat bagi stabilitas sosial ekonomi negara.

Romauli Panggabean, selaku penulis laporan dari KSPL, menjelaskan bahwa masyarakat sebenarnya membayar "harga asli" makanan melalui penurunan kualitas hidup mereka. “Ada biaya-biaya tersembunyi di belakang yang tidak pernah muncul di struk belanja kita waktu membeli makanan,” tegas Romauli kepada awak media di Jakarta, Selasa (27/1/2026).

Komponen terbesar dari biaya siluman ini berasal dari sektor kesehatan akibat pola konsumsi yang tidak seimbang dan akses pangan sehat yang terbatas. Kerugian ekonomi akibat masalah obesitas saja diperkirakan mencapai USD210,9 miliar karena menurunnya produktivitas masyarakat secara drastis dalam jangka panjang.

Dampak lingkungan juga menjadi perhatian serius karena sistem pangan berkontribusi besar terhadap emisi gas rumah kaca dan degradasi lahan yang parah. Praktik pertanian yang tidak berkelanjutan terus menekan sumber daya air dan memperbesar risiko kerusakan ekosistem yang tidak dapat diperbaiki dengan mudah.

Dari sisi sosial, ketimpangan kesejahteraan petani dan konflik agraria menjadi bukti nyata bahwa sistem distribusi pangan saat ini masih menyisakan banyak persoalan. Romauli menekankan bahwa meskipun sistem ini berkontribusi pada ekonomi, di sisi lain terdapat dampak merugikan yang dibayar dengan kondisi lingkungan dan sosial.

Memahami biaya tersembunyi ini diharapkan menjadi langkah awal bagi pemerintah untuk mendorong kebijakan pangan yang jauh lebih sehat dan adil. Diskusi mengenai pangan di Indonesia tidak boleh lagi hanya terpaku pada isu harga murah, melainkan harus mulai mempertimbangkan keberlanjutan masa depan bangsa.
 

Editor : Aris

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut