Orang Tua Perlu Waspada, Ini Ragam Gangguan Mental pada Anak
TANGERANG SELATAN, iNewsTangsel.id - Masalah kesehatan mental pada anak masih sering luput dari perhatian orang tua. Berbeda dengan gangguan fisik yang mudah terlihat, gangguan mental kerap berkembang secara perlahan dan baru disadari ketika sudah memengaruhi perilaku, emosi, maupun kemampuan sosial anak.
“Ada sejumlah gangguan mental yang umum dialami anak, dengan gejala yang bervariasi dan sering kali disalahartikan sebagai bagian dari proses tumbuh kembang biasa,” kata Psikolog Klinis Anak dan Remaja RS Premier Bintaro, Monica Sulistiawati, Rabu (28/1/2026).
Dia menjelaskan, salah satu gangguan yang paling sering muncul adalah gangguan kecemasan. Kondisi ini ditandai dengan rasa takut dan khawatir berlebihan yang sulit dikendalikan.
“Bentuknya beragam, mulai dari general anxiety disorder yang membuat anak cemas terhadap banyak hal, panic disorder yang memicu kepanikan pada situasi tertentu, hingga separation anxiety disorder saat anak merasa takut berpisah dari orang terdekat,” ujarnya.
Selain itu, lanjut dia, ada pula gangguan kecemasan sosial yang menyebabkan anak menghindari interaksi dengan orang lain, serta selective mutism, di mana anak tiba-tiba menjadi diam dan menarik diri dalam situasi tertentu.
“Beberapa anak juga mengalami fobia, obsessive compulsive disorder (OCD), hingga post-traumatic stress disorder (PTSD) akibat pengalaman traumatis,” imbuh Monica.
Menurut dia, gangguan lain yang kerap ditemukan adalah attention-deficit/hyperactivity disorder (ADHD). Anak dengan ADHD umumnya sangat aktif, sulit berkonsentrasi, dan cenderung impulsif, sehingga sering mengalami hambatan dalam proses belajar maupun interaksi sosial.
“Sementara itu, autism spectrum disorder (ASD) berkaitan dengan gangguan perkembangan saraf yang memengaruhi kemampuan komunikasi, interaksi sosial, serta perilaku anak. Gejalanya biasanya mulai terlihat sejak usia dini, bahkan sebelum anak berusia satu tahun,” terangnya.
Dia memaparkan, jenis gangguan lainnya meliputi disruptive behavior disorders, yaitu pola perilaku melanggar aturan dan tidak kooperatif, serta eating disorder atau gangguan makan.
“Gangguan makan pada anak bisa berupa pembatasan makan berlebihan karena takut gemuk, perilaku memuntahkan makanan, hingga makan secara berlebihan tanpa rasa lapar,” ucapnya.
Monica menerangkan, gangguan mental pada anak dapat dipicu oleh berbagai faktor, seperti genetik, tekanan lingkungan, serta pengalaman atau peristiwa tertentu yang pernah dialami anak. Karena itu, deteksi dini menjadi kunci agar anak mendapatkan penanganan yang tepat.
“Pemahaman orang tua terhadap tanda-tanda awal gangguan mental sangat penting. Semakin cepat dikenali, semakin besar peluang anak untuk berkembang secara optimal dengan dukungan yang sesuai,” ujarnya.
Monica menegaskan, apabila orang tua mencurigai adanya gangguan kesehatan mental pada anak, pendampingan oleh tenaga profesional seperti psikolog atau psikiater anak sangat dianjurkan. Sehingga diagnosis dan penanganan dapat dilakukan secara tepat dan menyeluruh.
“Deteksi dan pendampingan sejak dini sangat penting agar anak mendapatkan penanganan yang sesuai. Dengan dukungan yang tepat, anak dengan gangguan kesehatan mental tetap memiliki peluang besar untuk tumbuh dan berkembang secara optimal,” pungkas Monica.
Editor : Elva Setyaningrum