get app
inews
Aa Text
Read Next : Ancaman APK Ilegal Meningkat, Pengguna Android Diminta Waspada Risiko Kejahatan Siber

Pendidikan SMK Industri Didorong Lebih Adaptif terhadap Perubahan Dunia Kerja

Selasa, 10 Februari 2026 | 22:01 WIB
header img
Pendekatan berbasis kompetensi dan bukti diperlukan agar lulusan benar-benar relevan dengan kebutuhan industri. Foto ist

JAKARTA, iNewsTangsel.id - Kementerian Perindustrian melalui Pusat Pengembangan Pendidikan Vokasi Industri (PPVI) menggandeng Markija Berdaya untuk menerapkan asesmen keterampilan berbasis teknologi dalam upaya memperkuat link and match antara pendidikan vokasi dan kebutuhan industri. 

Kolaborasi ini menghadirkan platform PractiWork di empat satuan pendidikan vokasi Kemenperin: SMK-SMAK Bogor, Akademi Kimia Analisis (AKA) Bogor, Politeknik STMI Jakarta, dan Politeknik APP Jakarta. Program tersebut difokuskan pada pemetaan kompetensi lulusan secara terukur untuk menekan kesenjangan keterampilan tenaga kerja yang selama ini kerap dikeluhkan industri.

Sekretaris BPSDMI Kemenperin, Sidik Herman, menegaskan asesmen berbasis data menjadi instrumen strategis dalam mengoreksi arah pendidikan vokasi. “Data hasil asesmen menjadi dasar evaluasi kurikulum secara berkelanjutan. Pendekatan berbasis kompetensi dan bukti diperlukan agar lulusan benar-benar relevan dengan kebutuhan industri,” ujarnya, Selasa (10/2/2026).

Uji coba PractiWork di SMK-SMAK Bogor pada September 2025 menunjukkan hasil yang menantang paradigma lama penilaian akademik. Dari 47 siswa yang diuji, potensi tidak selalu linear dengan nilai rapor. Mayoritas siswa masuk klaster well-rounded, sementara capaian akademik rendah tersebar di berbagai karakteristik kompetensi.

President Director Markija Berdaya, Csongor Hunyar, menyebut asesmen komprehensif diperlukan untuk menutup celah antara dunia pendidikan dan kebutuhan kerja riil. “Melalui PractiWork, pemetaan tidak hanya melihat kemampuan teknis, tetapi juga karakter kerja dan kesiapan individu. Penempatan talenta harus berbasis data objektif, bukan asumsi,” katanya.

Dunia usaha menilai langkah ini relevan, namun menuntut konsistensi implementasi. Wakil Ketua Bidang Hubungan Internasional APINDO, Didit Ratam, menekankan kesesuaian kompetensi menjadi faktor kunci produktivitas. “Kesesuaian keterampilan dengan kebutuhan industri akan memperpendek learning gap tenaga kerja. Tanpa itu, investasi pada SDM berisiko tidak optimal,” ujarnya.

Meski digadang menjadi fondasi penguatan ekosistem vokasi berbasis kompetensi, efektivitas program akan ditentukan oleh integrasi hasil asesmen ke dalam kebijakan kurikulum, sistem magang, dan rekrutmen industri. Tanpa tindak lanjut struktural, asesmen berpotensi berhenti sebagai pemetaan tanpa perubahan nyata.

Editor : Hasiholan Siahaan

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut