Awas Bahaya! Reisa Broto Asmoro Beri Edukasi di Balik Kebiasaan Oversharing di Sosmed Saat Ramadan
JAKARTA, iNewsTangsel - Fenomena berbagi aktivitas di media sosial kini seolah menjadi menu wajib sehari-hari bagi masyarakat, termasuk selama menjalani ibadah di bulan Ramadan. Namun, di balik kemudahan tersebut, tersimpan risiko nyata berupa oversharing yang dapat merusak kesehatan mental hingga menggerus pahala ibadah puasa seseorang.
Artis yang juga pakar kesehatan dr. Reisa Broto Asmoro bersama pendakwah Ustaz Akri Patrio membedah fenomena ini secara mendalam dalam diskusi edukatif. Acara diskusi bertajuk "Ramadan No Oversharing Bersama Tropical No Oversaring" yang digelar di Sentul, Bogor, Minggu (1/3/2026) ini memberikan peringatan keras bahwa kecanduan akan validasi publik di dunia maya dapat menjadi ancaman serius bagi ketenangan batin.
Menurut dr. Reisa, dorongan untuk terus mengunggah konten sering kali berawal dari keinginan mencari rasa lega atau sekadar mengikuti tren lingkungan sekitar. Masalah utama muncul ketika fokus seseorang beralih sepenuhnya pada ketergantungan terhadap respons orang lain seperti jumlah suka dan komentar.
"Likes dan dukungan bisa menjadi adiksi, jika dilakukan berlebihan tanpa batasan privasi, lama-lama mental kita menjadi lemah karena kehilangan jati diri," ujar dr. Reisa, dalam keterangannya, dikutip Senin (2/3/2026).
Reisa menekankan pentingnya menjaga batasan privasi agar kesehatan psikologis tetap terjaga di tengah gempuran tren digital yang masif. Guna mencegah dampak negatif tersebut, dr. Reisa membagikan tiga filter utama sebelum mengunggah sesuatu, yakni memastikan konten tersebut aman, perlu, dan bermanfaat. Filter ini bertujuan agar setiap informasi yang dibagikan tidak merugikan diri sendiri maupun orang lain di ruang publik yang terbuka.
Sejalan dengan pandangan medis tersebut, Ustaz Akri Patrio menegaskan bahwa aktivitas berbagi di media sosial dalam Islam sangat bergantung pada niat atau iktikad awal. Berbagi kebaikan untuk motivasi memang dianjurkan, namun batasannya sangat tipis dengan perilaku pamer yang bisa menghanguskan pahala amal ibadah.
"Kalau posting untuk pencitraan personal atau pamer (riya), itu sia-sia dan merusak amal Ramadan, berkatalah yang baik atau diam," tegas Ustaz Akri.
Dia mengingatkan umat agar menjauhi perilaku mencaci atau menjatuhkan orang lain melalui interaksi di media sosial selama bulan penuh rahmat.
Acara edukasi ini ditutup dengan aksi memikat Chef Hideki dalam sesi demonstrasi masak hidangan khas Korea dan Jepang yang sehat untuk dikonsumsi. Inisiatif dari Tropical ini diharapkan mampu menginspirasi masyarakat untuk meraih Ramadan yang lebih bermakna melalui keseimbangan kesehatan fisik dan ketenangan batin.
Editor: Aris