Serangan Siber Meluas, UKM Perlu Perkuat Perlindungan Data
TANGERANG SELATAN, iNewsTangsel.id - Ancaman serangan siber, khususnya ransomware, kian meningkat dan tidak lagi hanya menyasar perusahaan besar. Kini, usaha kecil dan menengah (UKM) juga menjadi targetnya. Karena memiliki sistem keamanan data digital yang relatif lebih lemah. Sehingga kebutuhan sistem perlindungan data yang kuat dan sesuai regulasi menjadi semakin penting.
Regional Marketing Synology, Joevita Evadne, menjelaskan, di tengah meningkatnya ancaman siber, backup tidak lagi sekadar alat pemulihan data. Backup telah menjadi bagian penting dalam menjaga kelangsungan operasional bisnis.
“Perusahaan yang memiliki strategi backup yang kuat akan jauh lebih siap menghadapi serangan, memulihkan sistem, dan mempertahankan kepercayaan pelanggan,” katanya, Jumat (10/4/2025).
Diakui, dalam beberapa tahun terakhir, frekuensi serangan ransomware terus meningkat. Serangan ini bekerja dengan mengenkripsi data perusahaan dan menuntut tebusan agar akses dipulihkan.
“Kondisi tersebut menempatkan perusahaan pada situasi sulit, antara membayar tebusan tanpa jaminan pemulihan data, atau kehilangan data penting secara permanen,” ujarnya.
Menurutnya, dampak serangan tidak hanya terbatas pada kehilangan data. Tapi juga, gangguan operasional bisnis, terhentinya layanan, hingga kerusakan reputasi menjadi risiko nyata yang dapat merugikan perusahaan dalam jangka pendek maupun panjang.
“Situasi ini mendorong perubahan pendekatan dalam pengelolaan keamanan siber. Jika sebelumnya fokus utama berada pada pencegahan serangan, kini banyak perusahaan mulai mengadopsi konsep ketahanan siber atau cyber resilience, yaitu kemampuan untuk tetap beroperasi dan pulih dengan cepat setelah insiden terjadi,” ungkapnya.
Joevita memaparkan, salah satu fondasi utama dalam strategi ini adalah sistem backup data yang andal. Backup tidak lagi dipandang sekadar alat pemulihan file yang terhapus, tapi juga sebagai bagian penting dalam menjaga keberlangsungan bisnis.
“Sejumlah pendekatan teknis pun mulai diterapkan untuk memperkuat sistem backup. Salah satunya, strategi 3-2-1-1-0. Metode ini menekankan pentingnya memiliki beberapa salinan data di media berbeda, termasuk salinan yang terisolasi dari jaringan utama, serta memastikan seluruh data dapat dipulihkan tanpa kesalahan,” imbuhnya.
Namun, kata dia, penerapan sistem backup di lingkungan bisnis modern masih menghadapi berbagai tantangan. Banyak perusahaan memiliki infrastruktur IT yang terbatas. Sementara data tersebar di berbagai lokasi kerja seperti kantor cabang, toko, atau proyek.
“Kondisi ini kerap menyebabkan sistem backup tidak terintegrasi dan berisiko mengalami kesalahan pengelolaan,” ucapnya.
Ia menambahkan, platform backup terintegrasi kini semakin banyak digunakan. Karena menggabungkan manajemen backup, penyimpanan, dan pemulihan data dalam satu sistem. Sehingga memudahkan perusahaan dalam menjaga konsistensi dan mengurangi kompleksitas operasional.
“Salah satu solusi yang tersedia, ActiveProtect Appliance yang kami rancang dengan pendekatan tersebut. Dengan menggabungkan manajemen backup dan penyimpanan dalam satu platform, perusahaan dapat memantau seluruh sistem perlindungan data secara terpusat,” tutup Joevita.
Editor : Elva Setyaningrum