Guru dari Papua hingga Kalimantan Ungkap Kegunaan Chromebook di Sidang
JAKARTA, iNewsTangsel.id - Persidangan dugaan korupsi pengadaan Chromebook yang menyeret Nadiem Makarim menghadirkan fakta baru di ruang sidang. Sejumlah saksi dari kalangan guru mengungkap bahwa perangkat tersebut tetap efektif digunakan untuk pembelajaran meski dengan keterbatasan koneksi internet, mematahkan tudingan inefisiensi program digitalisasi pendidikan.
Dalam kesaksiannya, guru dari Sorong, Papua Barat Daya, Denny Adelyta Tofani Novitasari menyebut Chromebook mampu mendukung praktik pembelajaran interaktif, termasuk simulasi pelajaran kimia berbasis visual. “Penggunaan layar sentuh pada Chromebook memudahkan siswa memahami materi secara lebih interaktif,” ujarnya di persidangan, Jumat (24/4/2026).
Hal serupa disampaikan Kepala Sekolah di Sorong, Arby William Mamangsa, yang menegaskan perangkat tersebut tetap dapat digunakan tanpa koneksi internet. “Chromebook tidak selalu membutuhkan internet karena tetap bisa mengakses dokumen pembelajaran secara offline. Ini sangat membantu di daerah dengan jaringan terbatas,” katanya.
Sementara itu, Muhamad Firman, yang pernah mengajar di wilayah 3T, mengungkapkan pengalaman penggunaan Chromebook dengan dukungan listrik tenaga surya dan jaringan minim. “Saya mengajar matematika menggunakan Google Slides dan Spreadsheet secara offline, dan itu berjalan dengan baik,” ujarnya.
Di sisi lain, ahli pendidikan Ina Liem menyoroti efisiensi anggaran dari ekosistem digital pendidikan. Menurutnya, platform pembelajaran daring mampu memangkas biaya pelatihan guru secara signifikan karena tidak lagi membutuhkan biaya perjalanan dan akomodasi.
Kuasa hukum Nadiem, Ari Yusuf Amir, bahkan menyebut perkara ini sebagai “kasus gaib” karena banyak tudingan yang dinilai tidak terbukti di persidangan. Ia menegaskan bahwa kesaksian para guru menjadi bukti langsung bahwa perangkat tersebut digunakan dan memberi manfaat nyata di lapangan.
Persidangan ini kini tidak hanya menguji aspek hukum, tetapi juga membuka perdebatan lebih luas mengenai efektivitas kebijakan digitalisasi pendidikan, terutama dalam menjangkau wilayah dengan keterbatasan infrastruktur di Indonesia.
Editor : Hasiholan Siahaan