SDM Indonesia Siap Gunakan AI, Namum Dukungan Perusahaan Minim
JAKARTA, iNewsTangsel.id -Pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) di Indonesia menunjukkan perkembangan positif dari sisi sumber daya manusia (SDM). Karena teknologi ini mampu menjadi kunci bagi perusahaan untuk meningkatkan efisiensi sekaligus daya saing di era digital. Sayangnya, dukungan perusahaan masih minim untuk mengadopsi AI.
AVP dan President Director Salesforce Indonesia, Andreas Diantoro menjelaskan, AI kini tidak lagi berfungsi sebagai asisten yang menunggu perintah, melainkan telah berevolusi menjadi sistem otonom. Dengan mengintegrasikan standar operasional prosedur (SOP) perusahaan ke dalam sistem, AI mampu merencanakan, mengambil keputusan, hingga menyelesaikan alur kerja secara proaktif.
"Di Indonesia, adopsi AI semakin relevan dengan hadirnya infrastruktur pendukung seperti pusat data lokal. Kehadiran sistem ini memungkinkan perusahaan memenuhi aspek regulasi, keamanan data, serta meningkatkan kecepatan layanan," ujarnya, Kamis (23/4/2026).
Andreas mengungkapkan, hasil survei yang dilakukan pihaknya terhadap 1.000 profesional di berbagai sektor, mayoritas pekerja telah siap mengadopsi teknologi AI dalam aktivitas kerja sehari-hari.
"Sebanyak 68% responden menyatakan, pengalaman menggunakan AI dalam kehidupan pribadi meningkatkan kepercayaan mereka untuk memanfaatkannya di lingkungan kerja. Selain itu, 70% responden mengaku produktivitas dan rasa percaya diri mereka meningkat saat menggunakandir," terangnya.
Namun, lanjut Andreas, kesiapan individu tersebut belum sepenuhnya diimbangi oleh dukungan perusahaan. Hanya sekitar 33% responden yang mengaku telah mendapatkan pelatihan atau pengembangan keterampilan AI dari tempat mereka bekerja.
"Kondisi ini menunjukkan adanya kesenjangan antara kesiapan tenaga kerja dan strategi organisasi dalam mengadopsi teknologi," tegasnya.
Menurut dia, minimnya dukungan perusahaan juga memunculkan risiko shadow AI, yakni penggunaan aplikasi AI dari sumber tidak resmi di luar pengawasan perusahaan. Praktik ini berpotensi menimbulkan celah keamanan, terutama terkait pengelolaan data sensitif.
"Untuk mengatasi tantangan tersebut, perusahaan didorong tidak hanya berfokus pada investasi teknologi, tetapi juga pada pengembangan kapasitas SDM. Konsep AI fluency atau kemampuan berkolaborasi dengan AI menjadi kunci agar teknologi dapat dimanfaatkan secara optimal dan aman," ucap Andreas.
Dijelaskan, sejumlah langkah strategis diperlukan dalam proses adaptasi ini. Di antaranya merancang ulang proses kerja agar lebih sederhana, meningkatkan keterampilan karyawan, mengalihkan tugas ke pekerjaan bernilai tinggi, serta menyeimbangkan peran antara manusia dan AI sesuai keunggulannya masing-masing.
"Di tengah pesatnya perkembangan teknologi, peran manusia tetap menjadi faktor utama dalam menciptakan keunggulan kompetitif. Kreativitas, inovasi, dan kemampuan berpikir kritis dinilai tidak tergantikan oleh mesin," paparnya.
Andreas optimis dengan tingkat kesiapan tenaga kerja yang tinggi serta dukungan teknologi yang terus berkembang, Indonesia memiliki peluang besar untuk mempercepat adopsi AI dan menjadi salah satu pemain utama di kawasan Asia Tenggara.
Editor : Elva Setyaningrum