Jangan Abaikan Sakit Kepala Berkepanjangan, Bisa Jadi Gejala Tumor Otak
JAKARTA, iNewsTangsel.id - Tumor otak merupakan penyakit yang perlu diwaspadai karena dapat memengaruhi berbagai fungsi penting tubuh, mulai dari kemampuan berpikir, berbicara, bergerak, hingga penglihatan. Meski tidak semua tumor otak bersifat ganas, kondisi ini dapat mengancam jiwa apabila tidak ditangani secara tepat dan sedini mungkin.
Dokter Spesialis Bedah Saraf RS Premier Bintaro, dr. Moch. Evodia Slamet, menjelaskan,ntumor otak dapat berasal dari jaringan otak itu sendiri maupun merupakan penyebaran (metastasis) kanker dari organ lain, seperti payudara dan paru-paru. Gejalanya sering berkembang secara bertahap sehingga kerap dianggap sebagai keluhan kesehatan biasa. Padahal, mengenali tanda-tanda awal sangat penting untuk mempercepat diagnosis dan penanganan.
"Salah satu gejala yang paling umum adalah sakit kepala yang berlangsung terus-menerus atau semakin memburuk dari waktu ke waktu. Keluhan tersebut dapat disertai mual dan muntah pada pagi hari. Bahkan, dapat memicu kejang meski sebelumnya tidak memiliki riwayat epilepsi," ujar dr. Evodia, Jumat (19/6/2026).
Dr. Evodia menjelaskan, sakit kepala yang semakin berat sering kali terjadi seiring pertumbuhan tumor yang meningkatkan tekanan di dalam rongga kepala. Kondisi ini dapat memengaruhi saraf penglihatan sehingga menyebabkan pandangan kabur.
"Tekanan yang terus meningkat dapat memengaruhi saraf mata sehingga penglihatan menjadi kabur. Jika tidak segera ditangani, kondisi ini dapat berkembang menjadi kebutaan permanen," katanya.
Selain gangguan penglihatan, lanjutnya, tumor yang tumbuh pada area tertentu di otak juga dapat menyebabkan perubahan perilaku dan kepribadian. Pada kasus tertentu, pasien yang sebelumnya pendiam dapat berubah menjadi lebih agresif atau hiperaktif akibat gangguan pada bagian depan otak.
"Apabila ukuran tumor terus bertambah, risiko komplikasi yang lebih serius juga meningkat. Salah satunya adalah penurunan kesadaran akibat terganggunya pusat kesadaran di otak. Jika tumor terus membesar, pasien berisiko mengalami penurunan kesadaran karena pusat kesadaran di otak terganggu," ungkapnya.
Menurutnya, untuk menegakkan diagnosis, dokter umumnya melakukan pemeriksaan pencitraan menggunakan Magnetic Resonance Imaging (MRI). Pemeriksaan ini dapat membantu menentukan lokasi, ukuran, serta karakteristik tumor secara lebih rinci. Dalam penanganannya, terapi akan disesuaikan dengan jenis, lokasi, dan kondisi tumor yang dialami pasien.
"Pilihan terapi meliputi pemberian obat untuk mengurangi pembengkakan otak, terapi hormonal pada jenis tumor tertentu, operasi pengangkatan tumor, radioterapi, hingga kemoterapi. Tujuan operasi tidak hanya mengangkat tumor, tapi juga mengurangi tekanan pada otak serta memperoleh sampel jaringan untuk pemeriksaan laboratorium guna menentukan jenis tumornya," jelas dr. Evodia.
Ia menambahkan, perkembangan teknologi medis memungkinkan tindakan bedah saraf dilakukan dengan teknik yang lebih minimal invasif. Pada beberapa kasus tumor di dasar tengkorak, operasi bahkan dapat dilakukan melalui rongga hidung dengan bantuan endoskopi tanpa harus membuka tempurung kepala secara luas.
"Selain operasi, radioterapi juga menjadi salah satu pilihan terapi untuk menghancurkan sel-sel tumor yang masih tersisa. Teknologi radiasi modern memungkinkan sinar radiasi diarahkan secara presisi ke jaringan tumor sehingga kerusakan pada jaringan sehat di sekitarnya dapat diminimalkan," terangnya.
Dr. Evodia menekankan, pentingnya kewaspadaan terhadap gejala yang muncul. Penundaan pemeriksaan dan pengobatan dapat menyebabkan kerusakan saraf yang bersifat permanen. Ia mencontohkan adanya pasien yang menunda pengobatan selama berbulan-bulan hingga akhirnya mengalami kebutaan permanen akibat tekanan tumor yang terlalu lama mengenai saraf penglihatan.
"Karena itu, masyarakat diimbau untuk segera berkonsultasi ke dokter apabila mengalami sakit kepala berkepanjangan, gangguan penglihatan, kejang, atau perubahan fungsi saraf lainnya. Dengan diagnosis dan penanganan yang dilakukan sedini mungkin, risiko komplikasi berat akibat tumor otak dapat diminimalkan dan peluang keberhasilan terapi menjadi lebih besar," tutupnya.
Editor : Elva Setyaningrum