Transformasi Digital Tangsel Melesat, Perizinan Online Masih Jadi Pekerjaan Rumah Pemkot
TANGERANG SELATAN, iNewsTangsel – Dinas Komunikasi dan Informatika (Kominfo) Kota Tangerang Selatan menegaskan komitmennya dalam memperkuat transformasi layanan publik berbasis digital melalui pengembangan aplikasi super Tangsel ONE dan asisten virtual berbasis kecerdasan buatan, AI Helita. Evaluasi operasional yang dilakukan pada periode 30 April hingga 15 Juni 2026 menunjukkan sistem berjalan stabil dengan tingkat kinerja yang memenuhi target operasional.
Tantangan utama saat ini bukan lagi terletak pada kesiapan teknologi, melainkan pada proses perubahan budaya masyarakat dalam memanfaatkan layanan digital. Menurutnya, kesenjangan antara kesiapan sistem dan adaptasi pengguna masih menjadi pekerjaan rumah yang harus diselesaikan bersama.
“Secara performa teknologi dan infrastruktur, sistem Helita bekerja sangat andal. Namun, data evaluasi menunjukkan ada pekerjaan rumah besar dalam menggeser budaya masyarakat dari analog menuju digital, terutama pada layanan perizinan dan penanganan keluhan fisik,” ujar Kepala Dinas Kominfo Kota Tangerang Selatan, TB Asep Nurdin, dalam keterangannya, Senin (22/6/2026).
Selama masa evaluasi, AI Helita tercatat melayani 974 percakapan dengan total 10.257 pesan yang masuk dari masyarakat. Dari jumlah tersebut, layanan berhasil mencatatkan resolution rate sebesar 25 persen dengan kecepatan respons rata-rata mencapai 429 milidetik serta memperoleh rating 4,3 dari 5 bintang berdasarkan penilaian 250 pengguna.
Kominfo Tangsel juga mencatat seluruh indikator kinerja utama atau KPI operasional berada di atas ambang batas yang telah ditetapkan. Tingkat ketersediaan sistem mencapai 93,33 persen atau melampaui target minimum 90 persen meski sempat mengalami gangguan eksternal pada akhir Mei dan awal Juni lalu.
“Alhamdulillah, ketersediaan sistem aman di atas ambang batas. Gangguan yang terjadi berasal dari layanan pihak ketiga, sementara kepatuhan SLA operasional kami mencapai 90 persen dengan 45 dari 50 tiket developer berhasil diselesaikan,” kata Asep.
Meski performa teknologi dinilai memuaskan, hasil evaluasi menunjukkan masyarakat masih lebih banyak menggunakan Helita sebagai sarana konsultasi dibanding menyelesaikan proses layanan secara mandiri. Dari 251 percakapan terkait perizinan, hanya empat pengguna yang berhasil membuat akun SIMPONIE dan sembilan pengguna yang menyelesaikan pengajuan berkas hingga tahap akhir.
“Secara infrastruktur, sistem aplikasi kami sudah siap dan aman. Namun proses transisi menuju layanan digital yang sepenuhnya mandiri memang memerlukan waktu dan pendampingan lebih lanjut,” ungkap Asep.
Di sektor pengaduan masyarakat, mayoritas laporan yang masuk masih didominasi persoalan fisik di lapangan seperti sampah, keamanan lingkungan, hewan liar, dan pembakaran sampah. Sementara itu, laporan yang berkaitan dengan masalah digital hanya menyumbang sebagian kecil dari keseluruhan aduan yang diterima sistem.
Untuk mengatasi berbagai kendala tersebut, Kominfo Tangsel telah menyiapkan sejumlah langkah strategis, termasuk penyempurnaan konten edukasi digital melalui video tutorial dan percepatan penanganan tiket keluhan di tingkat OPD.
“Prioritas utama kami adalah melakukan edukasi yang lebih masif dan terstruktur untuk mendorong perubahan budaya digital di masyarakat. Kami ingin layanan publik berbasis AI semakin mudah diakses, responsif, dan benar-benar dirasakan manfaatnya oleh warga,” pungkas Asep.
Editor : Aris