Percepatan Mekanisasi Pertanian, Dongkrak Produktivitas dan Tekan Biaya
JAKARTA, iNewsTangsel.id - Upaya memperkuat ketahanan pangan nasional perlu didukung oleh percepatan mekanisasi pertanian. Untuk itu, penggunaan alat dan mesin pertanian modern dapat meningkatkan produktivitas, menekan biaya operasional, sekaligus mengatasi keterbatasan tenaga kerja di sektor pertanian.
"Menjawab kebutuhan mekanisasi pertanian, kami pun meluncurkan traktor kompak bertenaga 40 HP. Traktor tersebut dirancang untuk meningkatkan efisiensi dan produktivitas petani dalam berbagai aktivitas, mulai dari pengolahan lahan, penanaman, perawatan tanaman, hingga mendukung kebutuhan logistik di kawasan pertanian," kata Country Manager RMA Indonesia, Toto Suharto, di ajang Inagritech 2026, di JiExpo, Jakarta, Selasa (28/7/2026).
Menurutnya, saat ini pemerintah cukup progresif dalam mendorong mekanisasi pertanian sebagai bagian dari upaya meningkatkan produksi pangan nasional. Sebab, tingkat mekanisasi pertanian Indonesia masih relatif lebih rendah dibandingkan sejumlah negara lain sehingga masih memiliki ruang besar untuk ditingkatkan.
"Kalau produktivitas ingin meningkat, maka mekanisasi pertanian harus terus diperluas. Dengan penggunaan traktor, alat tanam, hingga mesin panen, proses budidaya menjadi lebih cepat dan efisien sehingga hasil produksi dapat meningkat," ujar Toto.
Ia menilai peningkatan produktivitas tersebut pada akhirnya dapat membantu menjaga stabilitas pasokan pangan dan mendukung target swasembada pangan yang tengah didorong pemerintah.
"Penggunaan alat mekanisasi mampu mempercepat proses pengolahan lahan secara signifikan. Jika dikerjakan secara manual membutuhkan waktu yang lebih lama, penggunaan traktor memungkinkan pengolahan lahan mencapai sekitar empat hektare per hari, tergantung kondisi lapangan," ungkap Toto.
Ia mengaku, elain meningkatkan efisiensi di tingkat petani, pihaknya juga mulai memperluas jaringan distribusi dan layanan purna jual ke berbagai wilayah sentra pertanian seperti Sumatera, Kalimantan, Sulawesi hingga Papua.
"Langkah tersebut dinilai penting agar akses terhadap alat pertanian modern semakin merata," imbuh Toto.
Pihaknya berharap dengan alat ini kebutuhan mekanisasi tidak hanya pada komoditas pangan seperti padi, jagung, dan singkong, tapi juga pada sektor perkebunan, termasuk tebu dan kelapa sawit. Karena itu, pengembangan teknologi pertanian harus disesuaikan dengan karakteristik komoditas dan kondisi lahan di Indonesia.
"Percepatan modernisasi pertanian dapat menjadi salah satu faktor yang mendukung peningkatan produksi pangan nasional, memperkuat daya saing sektor pertanian, serta menjaga ketahanan pangan Indonesia di tengah meningkatnya kebutuhan konsumsi masyarakat," pungkas Toto.
Editor : Elva Setyaningrum