Menjaga Tradisi di Perantauan, Budaya Banyumasan Hadir di Jabodetabek
BOGOR, iNewsTangsel.id - Tradisi Banyumasan kembali mendapat ruang di tengah kehidupan masyarakat perkotaan melalui Pesta Rakyat Banyumas di Tanabambu, Kabupaten Bogor. Kegiatan ini menghadirkan kuliner, kesenian, dan tradisi Banyumas sebagai ruang perjumpaan budaya bagi masyarakat Banyumas Raya yang tinggal di Jabodetabek.
Mengusung semangat “Guyub Rukun Sesarengan”, kegiatan tersebut tidak sekadar menghadirkan hiburan, tetapi membawa suasana kampung halaman ke ruang publik. Makanan tradisional dan kesenian menjadi medium untuk mempertemukan masyarakat perantauan dengan identitas budaya yang mereka bawa dari daerah asal.
Berbagai kesenian Banyumasan ditampilkan dalam rangkaian acara, di antaranya calung, ebeg Banyumasan, sendratari dan keroncongan. Pertunjukan tersebut melibatkan komunitas seni, paguyuban dan sanggar yang berkembang di kawasan Jabodetabek.
Kehadiran seni tradisional menjadi penting di tengah perubahan pola hiburan masyarakat. Panggung budaya seperti ini memberi kesempatan bagi kesenian daerah untuk tetap ditonton, dipelajari, dan dikenalkan kepada generasi muda di luar wilayah Banyumas.
Selain pertunjukan, gelar budaya digelar setiap Sabtu dengan berbagai aktivitas yang memperkenalkan tradisi Banyumasan secara lebih dekat. Sejumlah perlombaan bernuansa tradisional turut menjadi bagian dari kegiatan, termasuk lomba seni dan lomba mendoan.
Kuliner juga menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari identitas budaya Banyumasan. Sroto, mendoan, dawet, getuk, pecel, dan serabi hadir sebagai bagian dari pengalaman budaya yang ditawarkan kepada pengunjung.
Bagi masyarakat perantauan, makanan tersebut bukan sekadar hidangan. Cita rasa tradisional menjadi pengingat terhadap lingkungan sosial dan kebiasaan yang ditinggalkan ketika berpindah ke kota besar.
Sekitar 10–15 pelaku UMKM Banyumasan turut terlibat dalam kegiatan, terutama pada akhir pekan. Kehadiran mereka memperlihatkan bagaimana pelestarian budaya dapat berjalan beriringan dengan aktivitas ekonomi masyarakat daerah.
Perwakilan Tanabambu, Jeje, mengatakan Pesta Rakyat Banyumas dirancang sebagai ruang untuk menghadirkan kembali suasana kampung halaman bagi masyarakat Banyumas Raya di Jabodetabek. “Pesta Rakyat Banyumas kami hadirkan bukan hanya sebagai sebuah event, tetapi sebagai ruang untuk menghadirkan kembali rasa kampung halaman,” ujar Jeje, Minggu (30/8/2026).
Menurutnya, masyarakat dapat berkumpul, menikmati makanan khas, menyaksikan kesenian dan merasakan kembali suasana guyub serta rukun yang menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Banyumasan.
Antusiasme masyarakat membuat atmosfer Banyumasan di Tanabambu diperpanjang hingga 30 September 2026. Dekorasi dan suasana Kampung Jawa tetap dipertahankan setelah rangkaian utama yang berlangsung sepanjang Agustus.
Perpanjangan tersebut menjadi kesempatan untuk menjaga ruang perjumpaan budaya sekaligus memberi waktu lebih panjang bagi masyarakat untuk mengenal tradisi Banyumasan.
Rangkaian utama Pesta Rakyat Banyumas mencapai puncaknya pada 29 Agustus 2026 dengan melibatkan masyarakat, komunitas seni dan pelaku UMKM. Seluruh kegiatan terbuka bagi masyarakat tanpa tiket masuk.
Melalui kegiatan ini, budaya Banyumasan tidak hanya ditempatkan sebagai warisan masa lalu, tetapi dihadirkan dalam kehidupan masyarakat masa kini. Kuliner, seni pertunjukan, komunitas dan ruang berkumpul menjadi cara untuk menjaga tradisi tetap hidup di tengah perubahan zaman.
Editor : Hasiholan Siahaan