Indonesia Diprediksi Kekurangan 691 Ribu Talenta Project Management pada 2035
JAKARTA, iNewsTangsel.id -:Kebutuhan tenaga profesional di bidang project management terus meningkat seiring semakin kompleksnya proyek yang dijalankan berbagai sektor industri. Perusahaan tidak lagi hanya membutuhkan tenaga yang mampu menyelesaikan pekerjaan teknis, tetapi juga profesional yang dapat mengelola proyek secara menyeluruh.
Kompleksitas proyek membuat kemampuan manajerial, kepemimpinan, pengambilan keputusan, hingga berpikir strategis menjadi semakin penting. Perubahan teknologi, model bisnis, serta tuntutan efisiensi dan keberlanjutan juga menuntut pemimpin proyek memiliki kemampuan beradaptasi yang lebih kuat.
Di tengah kebutuhan tersebut, industri menghadapi tantangan dalam menyiapkan talenta dengan fondasi akademik setara S2 sekaligus memiliki sertifikasi profesi yang diakui secara internasional. Kombinasi kompetensi akademik dan profesional dinilai penting untuk menghadapi proyek dengan skala dan kompleksitas yang semakin tinggi.
Persoalan itu menjadi salah satu pembahasan dalam Sharing Session & Panel Discussion bertajuk “The Transformative Role of Project Management”. Diskusi menghadirkan President Project Management Institute (PMI) Indonesia Achmad Fuad Bay, Ketua Umum Ikatan Ahli Manajemen Proyek Indonesia (IAMPI) Khrisna Suryanto Pribadi, President PRINCE2 Indonesia Adi Prasetyo, Chairman PMO Indonesia Sachlani, serta Direktur Konstruksi PT MRT Jakarta (Perseroda) Weni Maulina.
Dalam forum tersebut, kebutuhan penguatan kapasitas project management menjadi perhatian karena kesenjangan antara kebutuhan industri dan ketersediaan talenta diperkirakan masih akan melebar. Project management kini tidak hanya berkaitan dengan penyelesaian proyek, tetapi juga kemampuan mengorkestrasi sumber daya, risiko, teknologi, dan kepentingan berbagai pemangku kepentingan.
Project Management Institute (PMI) memproyeksikan dunia membutuhkan sekitar 65 juta pemimpin proyek baru hingga 2035. Pertumbuhan kebutuhan tenaga kerja project management yang diperkirakan mencapai sekitar 2,5 juta orang per tahun berpotensi menimbulkan kesenjangan talenta secara global.
Di Indonesia, kebutuhan tersebut juga menjadi tantangan tersendiri. Kesenjangan talenta project management diproyeksikan mencapai sekitar 540.000 hingga 691.000 orang pada 2035, atau meningkat sekitar 52,8 persen hingga 69,4 persen dibandingkan kondisi saat ini.
Melihat kebutuhan itu, BINUS University melalui BINUS Business School meluncurkan Master of Management (MM) in Transformative Project Management (TPM). Program ini dirancang dengan fondasi manajemen sehingga kompetensinya dapat diterapkan lintas industri, tidak terbatas pada proyek konstruksi dan infrastruktur.
Dean BINUS Business School Master Program Dr. Asnan Furinto mengatakan masih banyak talenta di lapangan yang memiliki kemampuan teknis kuat, tetapi belum didukung fondasi akademik setara S2 serta sertifikasi profesional dengan skala internasional.
Program MM TPM juga menyelaraskan kurikulum dengan jalur sertifikasi profesi global. Dengan pendekatan tersebut, lulusan diharapkan tidak hanya memiliki kemampuan teknis project management, tetapi juga mampu menjadi pemimpin proyek yang memiliki kapasitas manajerial dan berpikir strategis.
Editor : Hasiholan Siahaan