Kehilangan Orang Tua, Anak Yatim Butuh Dukungan Panjang
DEPOK, iNewsTangsel.id - Kehilangan orang tua membuat anak menghadapi persoalan yang tidak berhenti pada kebutuhan ekonomi. Pendidikan, kesehatan, tempat tinggal, hingga dukungan emosional menjadi bagian dari kebutuhan yang harus tetap dipenuhi ketika mereka tumbuh tanpa kehadiran orang tua.
Persoalan tersebut menjadi perhatian Yayasan Al Qohhar yang selama 23 tahun mendampingi anak yatim dan yatim piatu. Lembaga yang berdiri pada 9 Juli 2003 itu mencatat sekitar 865 anak yatim dan 387 anak yatim piatu pernah mendapatkan pendampingan.
Ketua Yayasan Al Qohhar, Kartono Warigogung mengatakan, pendampingan anak yatim tidak cukup jika hanya diberikan dalam bentuk santunan yang berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan materi. Anak yang kehilangan orang tua juga membutuhkan lingkungan yang dapat memberikan rasa aman, dukungan pendidikan, akses kesehatan dan pendampingan ketika menghadapi persoalan dalam kehidupan sehari-hari.
“Dari awal amanatnya memang untuk mengurus anak yatim dan yatim piatu. Jadi bukan hanya soal memberikan santunan. Anak-anak ini punya banyak kebutuhan. Pendidikan, kesehatan, makanan, tempat tinggal, semuanya harus diperhatikan,” ujar Kartono, Sabtu (3/10/2026).
Menurut dia, anak-anak tetap tinggal bersama kerabat terdekat di rumah masing-masing. Dukungan kemudian diberikan sesuai kebutuhan, termasuk terkait pendidikan, kondisi tempat tinggal, persoalan di sekolah dan layanan kesehatan.
"Pendampingan kesehatan juga dilakukan bagi anak yang membutuhkan penanganan lebih lanjut. Beberapa di antaranya menghadapi penyakit serius, seperti jantung bawaan, spina bifida, retinal detachment atau lepasnya retina, serta leukemia," ujarnya.
Selain kebutuhan fisik, lanjut dia, aspek psikologis juga menjadi perhatian. Pendampingan melibatkan psikolog dan tenaga medis untuk membantu memantau kondisi anak selama proses tumbuh kembang.
"Di luar pendampingan anak yatim dan yatim piatu, yayasannya juga memberikan bantuan kebutuhan pokok kepada lansia melalui program pemberian sembako secara rutin," imbuhnya.
Kartono mengungkapkan, kebutuhan anak juga berubah seiring bertambahnya usia. Karena itu, pendampingan tidak semestinya berhenti pada pemberian bantuan sesaat.
“Kalau ada yang sekolah, kita pikirkan sekolahnya. Kalau ada yang sakit, kita pikirkan pengobatannya. Kebutuhan sehari-hari juga diperhatikan,” tegasnya.
Salah satu anak asuh, Anaya Syakira Abimanyu, bergabung dengan yayasan tersebut sejak Juli 2024. Ia mengatakan perhatian dari orang-orang di sekitarnya membantunya menjalani kehidupan setelah kehilangan orang tua.
“Saya sangat bersyukur menjadi anak asuh di yayasan ini. Ayah Robert sangat baik dan benar-benar menjadi sosok ayah bagi kami,” kata Anaya.
Ia berharap pendampingan terhadap anak-anak yang kehilangan orang tua dapat terus berlangsung.
“Saya merasa beruntung menjadi anak asuh di yayasan ini. Saya berharap yayasan ini selalu ada untuk kami,” ujarnya.
Editor: Elva Setyaningrum