Guru Vokasi Berperan Siapkan Lulusan Siap Kerja
JAKARTA, iNewsTangsel.id -Perkembangan industri kecantikan mendorong guru pendidikan vokasi untuk terus memperbarui kompetensi agar materi pembelajaran sesuai dengan kebutuhan dunia kerja. Selain menguasai keterampilan teknis, guru dituntut mampu membekali siswa dengan pemahaman teori, standar keselamatan, dan kemampuan menganalisis kebutuhan pelanggan.
"Kebutuhan tersebut menjadi tantangan bagi pendidikan vokasi bidang tata rambut dan kecantikan. Karena perubahan teknik, teknologi, dan tren industri menuntut proses pembelajaran yang tidak hanya berorientasi pada praktik, tetapi juga pemahaman ilmiah di balik setiap prosedur," kata Head of Education Performance Professional Products Division L'Oréal Indonesia, Indra Tanudarma, Selasa (27/10/2026).
Menurutnya, peningkatan kompetensi pengajar juga menjadi perhatian dalam pengembangan pendidikan vokasi. Keterampilan yang diajarkan di sekolah perlu disesuaikan dengan perkembangan teknik dan standar profesional agar lulusan memiliki bekal yang relevan ketika memasuki pasar kerja.
"Salah satu upaya yang dilakukan adalah pelatihan bagi guru sekolah menengah kejuruan (SMK) tata kecantikan melalui program Hairducation yang berjalan sejak 2017. Program yang melibatkan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah tersebut memberikan pelatihan mengenai teknik tata rambut, inovasi produk, standar keselamatan, hingga pelayanan konsumen," terangnya.
Ia mengungkapkan, dari data penyelenggara, hingga 2026 program tersebut telah melatih 88 guru dari 46 SMK negeri di berbagai daerah. Para guru itu kemudian turut mempersiapkan lebih dari 4.200 lulusan untuk memasuki industri tata rambut profesional.
"Untuk itu, pembaruan kompetensi guru diperlukan karena industri tata rambut terus berkembang dan memiliki standar teknis yang semakin tinggi. Jadi, ketika guru memahami perkembangan teknik dan standar industri, pengetahuan tersebut dapat diteruskan kepada siswa melalui pembelajaran di sekolah," terangnya.
Dengan demikian, lanjut dia, peningkatan kualitas pendidikan vokasi tidak hanya bergantung pada fasilitas praktik, tetapi juga pada kemampuan guru memperbarui materi dan metode pengajaran.
"Sehingga pembelajaran dapat diperkuat melalui kesempatan bagi siswa untuk mengenal lingkungan industri secara langsung, termasuk melalui kunjungan ke akademi profesional dan kelas bersama praktisi," ucapnya.
Sementara itu, guru tata kecantikan SMKN 3 Bogor, Made Sumiati, mengatakan, pemahaman teori menjadi bagian penting dalam mempersiapkan siswa menghadapi persoalan nyata di dunia kerja.
"Siswa tidak cukup hanya menghafal tahapan pewarnaan atau pemangkasan rambut. Mereka juga perlu memahami karakteristik rambut, proses kimia dalam pewarnaan, serta alasan penggunaan teknik tertentu," ujarnya.
Ia menerangkan, pengetahuan tersebut diperolehnya melalui pelatihan yang memperdalam pemahaman tentang anatomi rambut dan ilmu di balik proses perawatan rambut.
“Sekarang saya dapat menjelaskan bukan hanya apa yang harus dilakukan, tetapi juga alasan di balik setiap tahap, sehingga murid tidak sekadar menghafal prosedur, tetapi mampu menganalisis kondisi rambut dan menentukan penanganan yang tepat,” kata Made.
Pada kesempatan yang sama, salah satu pelatih tata rambut di pusat pelatihan Beauty for a Better Life di Cianjur Achadiningtyas menambahkan, pendidikan keterampilan kecantikan juga berlangsung di luar jalur pendidikan formal. Pelatihan berbasis komunitas dapat menjadi alternatif bagi masyarakat yang ingin memperoleh keterampilan baru untuk bekerja atau membangun usaha.
"Mengajar keterampilan tata rambut tidak cukup hanya dengan memperagakan teknik. Pengajar juga perlu memahami kondisi peserta, menyesuaikan cara penyampaian materi, dan membangun kepercayaan diri mereka," paparnya.
Peserta pelatihan, misalnya, memiliki kebutuhan berbeda. Sebagian ingin kembali bekerja setelah berhenti sementara untuk mengurus keluarga, sedangkan peserta lainnya berupaya mendapatkan penghasilan melalui usaha mandiri.
“Bagi saya, hal yang paling berarti adalah ketika mereka mulai berani menggunakan keterampilannya untuk bekerja atau memulai usaha,” ujar Aca.
Pendampingan juga dapat berlanjut setelah pelatihan berakhir. Aca kerap menerima permintaan rekomendasi tenaga kerja dari pemilik salon, termasuk alumni pelatihan yang telah membuka usaha.
"Pengalaman tersebut memperlihatkan bahwa keberhasilan pelatihan vokasi tidak hanya diukur dari kelulusan peserta, tetapi juga dari kemampuan mereka memanfaatkan keterampilan untuk memperoleh pekerjaan atau membangun sumber penghasilan," ujarnya.
Editor: Elva Setyaningrum