TANGERANG, iNewsTangsel.id - Upaya mengurai persoalan sampah di Kota Tangerang kini tak hanya bertumpu pada armada pengangkut dan tempat pembuangan akhir. Di Intermediate Treatment Facility (ITF) Jatiuwung, kini ada budidaya maggot yang mampu mengolah sampah organik 10 ton hingga 15 ton per hari menjadi kompos berkualitas tinggi.
“Selama ini sampah organik dari pasar, rumah sakit, hingga rumah makan menjadi beban lingkungan. Tapi kini, limbah tersebut tidak lagi langsung dibuang ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Rawa Kucing, melainkan diolah terlebih dahulu melalui budi daya maggot,” kata Kepala Bidang Kebersihan dan Pengelolaan Sampah Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Tangerang, Iwan, Jumat (9/1/2026).
Menurutnya, pengolahan sampah organik dengan maggot telah berjalan selama beberapa tahun terakhir dan menunjukkan hasil nyata. Metode ini efektif menekan volume sampah sekaligus menghasilkan manfaat ekonomi dan lingkungan.
“Di ITF, sampah organik dipilah dan diurai oleh maggot hingga menjadi bahan baku kompos. Proses ini tidak hanya mengurangi volume sampah secara signifikan, tetapi juga menghasilkan produk yang berguna untuk pertanian dan penghijauan lingkungan,” imbuhnya.
Lebih dari sekadar pengolahan sampah, lanjut Iwan, keberadaan ITF Jatiuwung memberi dampak langsung bagi keberlanjutan TPA Rawa Kucing. Dengan berkurangnya kiriman sampah organik, beban TPA dapat ditekan sehingga masa operasionalnya lebih panjang.
“Di tengah tantangan pengelolaan sampah perkotaan yang terus meningkat, kami pengembangan budi daya maggot menjadi salah satu solusi konkret. Tahun ini, kapasitas pengolahan sampah organik di ITF Jatiuwung ditargetkan terus ditingkatkan,” ujarnya.
Editor : Elva Setyaningrum
Artikel Terkait
