TANGERANG, iNewsTangsel.id - Warga Pasar Kemis, Kabupaten Tangerang, resah, setelah rentetan kecelakaan lalu lintas dalam sebulan terakhir merenggut empat korban jiwa. Korban terbaru adalah seorang pelajar yang meninggal dunia, pada Jumat (13/2/2026). Duka tersebut, kini bercampur kekhawatiran karena kondisi jalan yang dinilai masih membahayakan.
Kepala Bidang Kabid Jalan dan Jembatan Dinas Bina Marga dan Sumber Daya Air (DBMSDA) Kabupaten Tangerang, Ardiansyah Putra mengaku, pihaknya sudah melakukan penambalan di sejumlah ruas jalan sebagai langkah darurat.
“Kami telah menurunkan tim untuk meminimalisir risiko kecelakaan. Kami memahami keresahan warga mengenai kondisi jalan di Pasar Kemis. Saat ini tim sudah dikerahkan untuk melakukan pemeliharaan sebagai langkah cepat mitigasi kecelakaan,” kata Ardiansyah, Senin (16/2/2026).
Dia menjelaskan, pemeliharaan darurat dilakukan dengan menutup lubang-lubang dan meratakan permukaan aspal yang rusak.
“Kami pastikan perbaikan permanen masuk dalam perencanaan dan akan segera dieksekusi setelah proses administrasi serta penganggaran rampung,” imbuhnya.
Secara terpisah, Arief, warga Pasar Kemis mengungkapkan, perbaikan yang dilakukan belum menyeluruh. Hanya beberapa titik saja. Bahkan, di beberapa bagian Jalan Raya Pasar Kemis, lubang menganga dan permukaan bergelombang masih terlihat jelas.
“Baru dua hari ada perbaikan jalan, kondisi jalan kembali rusak di sejumlah titik. Aspal yang baru ditambal sudah terkelupas, menyisakan lubang seperti sebelumnya. Titik kecelakaan saja tidak diperbaiki,” ujarnya,” terangnya.
Menurutnya, persoalan ini bukan sekadar infrastruktur, tapi juga menyangkut rasa aman dalam menjalani aktivitas sehari-hari.
“Kami berharap, Pemda tidak lagi mengandalkan pola tambal sulam, tetapi melakukan pembenahan komprehensif dengan pengawasan ketat terhadap kualitas pekerjaan,” katanya.
Arief mengaku, khawatir, tanpa perbaikan menyeluruh, kerusakan akan kembali muncul dalam waktu singkat dan berpotensi menambah daftar korban.
“Kalau mau perbaikan, jangan setengah-setengah. Kalau begini, lubang muncul lagi dan tetap membahayakan,” ucap Arief.
Editor : Elva Setyaningrum
Artikel Terkait
