JAKARTA, iNewsTangsel.id - Upaya penguatan sistem pangan global semakin diarahkan pada inovasi berbasis teknologi dan keberlanjutan. Salah satunya, dilakukan PepsiCo bersama National Geographic Society melalui pendanaan riset pertanian global untuk mempercepat pengembangan praktik pertanian regeneratif, termasuk inovasi berbasis kecerdasan buatan (AI) di Indonesia.
Program global bertema “Food for Tomorrow”, ini menekankan pemulihan kualitas tanah sekaligus peningkatan kesejahteraan petani di empat negara, termasuk Indonesia. Program ini difokuskan pada peningkatan ketahanan tanah dan penguatan sistem pangan di tengah tekanan perubahan iklim.
Di Indonesia, riset dipimpin oleh Al Greeny S. Dewayanti melalui proyek LIFE (Land Innovation for Food & Empowerment). Riset yang dikembangkan menggabungkan sistem tumpang sari tanaman dengan memanfaatkan analisis DNA tanah dan aplikasi AI.
“Pendekatan tersebut diterapkan melalui sistem tumpang sari jagung dan sacha inchi, biji kacang hijau yang diolah bisa menjadi super food kaya kandungan nutrisi serta tingkat Omega 3, 6 dan 9 yang tinggi,” imbuhnya.
Menurutnya, pada lahan pertanian yang terdegradasi, teknologi AI digunakan untuk menerjemahkan data mikroorganisme tanah menjadi panduan praktis bagi petani, seperti rekomendasi pemupukan atau kesiapan lahan tanam. Semua itu dilakukan untuk meningkatkan ketahanan pangan dan taraf hidup para petani.
“Diharapkan, riset ini dapat menjawab isu malnutrisi sekaligus mengembalikan kualitas tanah yang terdegradasi. Tanaman ragam panen (multi crops) yang diproduksi ini diprediksi dapat memenuhi kebutuhan 80% keluarga di kawasan Labuan Bajo. Inovasi ini menjembatani pengetahuan laboratorium dengan praktik nyata pertanian,” paparnya.
Bagi banyak petani, lanjutnya, kesehatan tanah tidak dapat terlihat. Untuk itu, riset ini dibuat agar mudah diakses sehingga petani dapat memahami apa yang terjadi di dalam tanah dan mengambil tindakan yang meningkatkan produktivitas dan keberlanjutan.
“Dengan dukungan ilmu pengetahuan dan teknologi, sektor pertanian diharapkan mampu beradaptasi terhadap perubahan iklim sekaligus menjaga keberlanjutan sumber daya alam,” ucapnya.
Sementara itu, Chief Science and Innovation Officer the National Geographic Society, Ian Miller menambahkan, pertanian regeneratif menjadi fokus baru dalam upaya menjaga keberlanjutan lingkungan dan sistem pangan global.
“Selama lebih dari satu abad, kami telah mendanai sains inovatif untuk membantu memahami dunia dengan lebih baik. Pertanian regeneratif adalah bidang fokus baru yang menarik bagi kami,” katanya.
Pada kesempatan yang sama, Executive Vice President dan Chief Sustainability Officer PepsiCo, Jim Andrew menilai praktik berbasis sains menjadi kunci untuk membantu petani menghadapi tantangan iklim sekaligus meningkatkan kesejahteraan.
“Kami telah berupaya untuk meningkatkan pertanian regeneratif secara global dan baru-baru ini memperluas target global untuk mendorong penerapan praktik regeneratif, restoratif, atau protektif di lahan seluas 10 juta hektar pada tahun 2030,” terang Jim.
Editor : Elva Setyaningrum
Artikel Terkait
