Dokter THT: Implan Koklea Bantu Pasien Mendengar, tapi Butuh Proses untuk Bicara

Elva
Ilustrasi pemasangan alat bantu dengar pada seorang pasien agar komunikasi lebih jelas. (Foto: Istimewa)

JAKARTA, iNewsTangsel.id - Operasi implan koklea dapat menjadi solusi bagi pasien dengan gangguan pendengaran berat hingga tuli total. Namun, keberhasilan tidak hanya ditentukan oleh operasi, melainkan juga proses rehabilitasi yang panjang.

‎Demikianlah dikatakan dokter spesialis THT dari Siloam Hospital Lippo Village, Kabupaten Tangerang, dr. EkoTeguh Prianto, dalam acara Smart Cochlear Implant Pertama di Indonesia, Siap Sambut Masa Depan, Sabtu (25/4/2026).

‎Menurut dr. Eko, kasus gangguan pendengaran bisa terjadi pada semua usia, mulai dari anak-anak hingga dewasa. Pada anak, gangguan sering kali baru terdeteksi saat mereka tidak merespons panggilan atau mengalami keterlambatan bicara.

‎“Banyak anak tidak langsung terdiagnosis. Biasanya baru diketahui dari guru atau orang tua karena respons terhadap suara kurang,” ujarnya.

‎Ia mencontohkan, pasien anak yang mengalami gangguan pendengaran selama bertahun-tahun sebelum akhirnya menjalani operasi. Setelah dilakukan implan di kedua telinga, pasien tersebut kini mampu kembali mendengar dari dua sisi dan menjalani aktivitas normal, termasuk berolahraga, meski tetap harus berhati-hati menjaga perangkat implan.

‎"Sedangkan, pada pasien dewasa, gangguan pendengaran dapat bersifat progresif, yaitu menurun secara bertahap hingga mencapai tingkat sangat berat. Bahkan, di atas 90 desibel. Dalam kondisi tersebut, implan koklea menjadi indikasi medis yang dianjurkan," ungkapnya. 

‎Dia menjelaskan, pada salah satu pasien, pendengaran terus menurun hingga sangat berat di kedua telinga. Setelah operasi, dalam dua minggu hasilnya sudah mendekati normal, dari sebelumnya di atas 90 desibel menjadi sekitar 30 desibel.

‎"Meski begitu, kemampuan mendengar tidak selalu diikuti dengan kemampuan berberbicar. Pasien bisa langsung mendengar suara, tapi untuk memahami bahasa butuh waktu. Otak harus dilatih kembali melalui terapi auditori,” imbuhnya.

‎Menurutnya, proses rehabilitasi atau habilitasi ini sangat penting, terutama bagi pasien yang sudah lama tidak mendengar. Terapi bertujuan melatih otak mengenali dan memahami suara baru, termasuk membedakan kata-kata yang mirip.

‎"Peran keluarga, khususnya orang tua, juga menjadi kunci keberhasilan terapi, terutama pada anak-anak. Karena sebagian besar waktu anak dihabiskan di rumah, bukan di tempat terapi. . Selebihnya, orang tua yang berperan besar dalam melatih anak berkomunikasi,” tambahnya.

‎Ia menegaskan, operasi hanyalah langkah awal. Tantangan terbesar justru terletak pada proses pascaoperasi, yaitu membantu pasien kembali memahami bahasa dan berkomunikasi secara efektif dalam kehidupan sehari-hari.

Editor : Elva Setyaningrum

Bagikan Artikel Ini
Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.
News Update
Kanal
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
MNC Portal
Live TV
MNC Network