JAKARTA, iNewsTangsel.id - Bermain tidak lagi dipandang sekadar aktivitas pengisi waktu luang bagi anak. Sejumlah penelitian dan pengalaman para praktisi menunjukkan, kegiatan bermain dapat menjadi sarana penting untuk mendukung tumbuh kembang anak, sekaligus membangun berbagai keterampilan yang dibutuhkan di masa depan.
Psikolog keluarga, Pritta Tyas mengungkapkan, bermain dan belajar sebenarnya merupakan dua proses yang berjalan bersamaan. Saat anak bermain, tidak hanya memperoleh kesenangan, tapi juga mengembangkan kemampuan berpikir, berkreasi, hingga menyelesaikan masalah.
“Bermain dan belajar itu tidak berdiri sendiri. Dalam satu aktivitas, anak bisa mendapatkan keduanya sekaligus,” ujar Pritta saat Lego Playground “Main dan Jadi Hebat”, Jumat (5/6/2026).
Menurutnya, permainan konstruktif seperti menyusun balok atau Lego dapat melatih kreativitas anak. Kreativitas tidak hanya berkaitan dengan menghasilkan sesuatu yang baru, tapi juga kemampuan mencari berbagai alternatif untuk menyelesaikan masalah.
"Selain kreativitas, permainan tersebut juga membantu anak mengembangkan kemampuan problem solving. Anak belajar menghadapi tantangan, mencari solusi, dan menyesuaikan langkah-langkah yang dilakukan agar sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai," terangnya.
Pritta menilai manfaat lain yang tidak kalah penting adalah pembentukan resiliensi atau ketangguhan. Ketika menghadapi kesulitan dalam menyusun permainan, anak belajar untuk mencoba kembali, mencari cara lain, atau meminta bantuan seperlunya tanpa langsung menyerah.
“Ketangguhan anak bisa dibentuk secara bertahap melalui bermain. Karena, aktivitas bermain juga dapat mengembangkan kemampuan berpikir kritis. Sehingga anak terdorong untuk bertanya, mengeksplorasi kemungkinan baru, dan menciptakan berbagai bentuk sesuai imajinasinya," imbuhnya.
Dari sisi perkembangan kognitif, lanjutnya, permainan konstruktif turut melatih kecerdasan visual-spasial. Kemampuan ini diperlukan ketika anak harus membayangkan posisi, bentuk, dan susunan objek sebelum menyusunnya menjadi sebuah bangunan atau model tertentu.
"Kecerdasan visual-spasial sendiri menjadi salah satu modal penting bagi berbagai profesi di masa depan, seperti arsitek, desainer, hingga bidang lain yang membutuhkan kemampuan memahami ruang dan bentuk. Selain itu, bermain juga membantu anak membangun sikap persisten, yakni kemampuan untuk terus berusaha secara konsisten hingga mencapai tujuan," katanya.
Dia mengungkapkan, melalui proyek permainan yang membutuhkan waktu penyelesaian lebih lama, anak belajar menyelesaikan tugas secara bertahap dan merasakan kepuasan ketika berhasil menyelesaikannya.
“Ketika anak berhasil menyelesaikan sesuatu yang sebelumnya terasa sulit, mereka mendapatkan rasa percaya diri dan pengalaman keberhasilan yang berharga,” jelas Pritta.
Ia menambahkan, kualitas hubungan antara orang tua dan anak menjadi faktor utama dalam proses tersebut. Bermain bersama dapat menjadi sarana membangun kedekatan emosional sekaligus memahami minat dan kebutuhan anak.
"Bagi orang tua yang memiliki keterbatasan waktu karena pekerjaan, disarankan untuk tetap menyediakan waktu khusus bermain bersama anak secara rutin. Idealnya orang tua meluangkan sekitar lima jam per minggu untuk berinteraksi dan bermain dengan anak," paparnya.
Meski demikian, durasi bukan satu-satunya hal yang penting. Kehadiran penuh orang tua saat bermain dinilai jauh lebih bermakna dibandingkan waktu yang panjang namun diselingi berbagai distraksi.
“Walaupun hanya 15 sampai 20 menit, usahakan orang tua benar-benar fokus bersama anak, tanpa terganggu oleh ponsel atau pekerjaan lain. Connection melalui bermain itu yang paling penting,” tutupnya.
Editor : Elva Setyaningrum
