JAKARTA, iNewsTangsel.id - Kasus batu ginjal di Indonesia terus menunjukkan tren peningkatan. Perubahan gaya hidup, kurangnya aktivitas fisik, hingga kebiasaan kurang minum menjadi faktor utama yang memicu terbentuknya batu saluran kemih, terutama di negara beriklim tropis seperti Indonesia.
Dokter Spesialis Urologi RS Premier Bintaro, dr. Teguh Risesa Djufri, mengatakan, prevalensi batu saluran kemih di Indonesia diperkirakan mencapai 10–15 persen. Dalam 37 tahun terakhir, angka kasus batu ginjal yang dilaporkan juga meningkat sekitar 37 persen.
"Laki-laki memiliki risiko sekitar tiga kali lebih tinggi dibandingkan perempuan. Hal ini dipengaruhi oleh faktor pekerjaan yang lebih banyak dilakukan di luar ruangan sehingga lebih rentan mengalami dehidrasi," ujarnya, Rabu (22/7/2026).
Menurut dr. Teguh, batu ginjal umumnya ditemukan pada usia 40–50 tahun. Namun, saat ini kasus pada usia produktif bahkan usia 20-an semakin sering dijumpai. Kondisi tersebut berkaitan dengan meningkatnya angka obesitas, pola hidup sedentari, serta minimnya aktivitas fisik.
"Sekitar 50 persen penderita batu ginjal berisiko mengalami kekambuhan sepanjang hidupnya. Karena itu, perubahan gaya hidup menjadi kunci utama pencegahan," ungkapnya.
Ia menjelaskan, gejala batu ginjal tidak selalu muncul. Sekitar 60 persen kasus baru menimbulkan keluhan ketika batu menyebabkan penyumbatan saluran kemih atau infeksi. Keluhan yang sering dirasakan berupa nyeri hebat di pinggang yang menjalar ke perut bagian depan hingga selangkangan, disertai mual, muntah, demam, urine berdarah, maupun gangguan saat buang air kecil.
"Banyak pasien yang mengira hanya mengalami sakit lambung karena mual terus-menerus. Setelah diperiksa menggunakan USG, ternyata terdapat batu di ginjal," katanya.
Ia menerangkan, untuk memastikan diagnosis, pemeriksaan ultrasonografi (USG) menjadi langkah awal yang banyak digunakan karena aman dan tanpa radiasi. Namun, pada kondisi tertentu, CT Scan tanpa kontras masih menjadi standar emas karena mampu mendeteksi batu dengan lebih akurat.
"Batu ginjal yang menyebabkan penyumbatan tidak boleh dibiarkan terlalu lama. Sumbatan lebih dari enam minggu dapat merusak fungsi ginjal. Sedangkan jika berlangsung lebih dari 12 minggu, kerusakan ginjal berpotensi menjadi permanen," ucapnya.
dr. Teguh menegaskan, penanganan batu ginjal tidak selalu melalui operasi. Perkembangan teknologi membuat operasi batu ginjal kini jauh lebih minim luka dan masa pemulihan pasien menjadi lebih cepat dibandingkan operasi terbuka yang dahulu membutuhkan sayatan besar.
"Batu berukuran kecil masih dapat ditangani dengan memperbanyak konsumsi cairan dan pemberian obat-obatan untuk membantu batu keluar secara alami," kata dr. Teguh.
Sedangkan, lanjutnya, batu berukuran besar dapat ditangani menggunakan teknik bedah minimal invasif seperti Percutaneous Nephrolithotomy (PCNL), Retrograde Intrarenal Surgery (RIRS) menggunakan laser, maupun Extracorporeal Shock Wave Lithotripsy (ESWL) yang menghancurkan batu tanpa sayatan.
Sebagai langkah pencegahan, dr. Teguh mengimbau, masyarakat dapat memenuhi kebutuhan cairan sekitar 2,5–3 liter per hari hingga produksi urine mencapai 2–2,5 liter sehari. Selain itu, masyarakat dianjurkan mengurangi konsumsi garam, menjaga berat badan ideal, memperbanyak makanan berserat, rutin berolahraga, serta membatasi makanan tinggi purin.
"Masyarakat juga harus rutin mengkonsumsi buah yang mengandung sitrat, seperti lemon, karena dapat membantu menghambat pembentukan batu ginjal. Jangan menunggu sampai batu menjadi besar atau menimbulkan komplikasi. Semakin cepat dideteksi dan ditangani, semakin besar peluang fungsi ginjal tetap terjaga," pungkasnya.
Editor : Elva Setyaningrum
Artikel Terkait
