Dua Buku Baru Gus Choi Bahas Masa Depan NU dan Kesejahteraan Rakyat

Hasiholan
Peluncuran dua buku tersebut dilakukan sekitar sepekan sebelum Muktamar ke-35 NU yang dijadwalkan berlangsung pada 27–31 Agustus 2026 di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, Jawa Timur. Foto istimewa

JAKARTA, iNewsTangsel.id  - Ketua Umum Dewan Nasional Indonesia untuk Kesejahteraan Sosial (DNIKS) Ahmad Effendy Choirie atau Gus Choi meluncurkan dua buku yang mengangkat persoalan NU dan Indonesia beserta gagasan penyelesaiannya.

Dua buku tersebut yakni Problem NU dan Solusinya dan Problem Indonesia dan Solusinya. Peluncuran berlangsung di Kantor DNIKS, Jakarta, Rabu (19/8/2026), menjelang Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama dan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.

Buku Problem NU dan Solusinya menyoroti sejumlah tantangan NU, terutama penguatan sumber daya manusia, pendidikan, pemberdayaan masyarakat, dan pengentasan kemiskinan.

Gus Choi mendorong NU memperbanyak pesantren unggulan yang tidak hanya mengajarkan pendidikan agama, tetapi juga teknologi serta bahasa Arab dan Inggris.

“NU harus memiliki banyak pesantren unggulan untuk menguasai teknologi, bahasa Arab dan Inggris,” ujar Gus Choi.

Menurut dia, penguatan pendidikan perlu berjalan beriringan dengan pemberdayaan ekonomi masyarakat. Ia menilai kemiskinan masih menjadi persoalan yang membutuhkan keterlibatan berbagai pihak.

Sementara itu, buku Problem Indonesia dan Solusinya membahas persoalan nasional dengan menawarkan gagasan yang berpijak pada Pancasila, UUD NRI 1945, moralitas, keadilan, dan pengalaman sejarah bangsa.

Salah satu gagasan yang diangkat adalah pengentasan kemiskinan melalui penguatan ekonomi masyarakat dari tingkat bawah. Gus Choi menilai UMKM di lingkungan RT dan RW perlu mendapat dukungan berupa pembiayaan, teknologi, akses pasar, legalitas, dan pendampingan.

Ia juga mengkritik pendekatan pembangunan yang terlalu bergantung pada proyek berskala besar. Menurutnya, masyarakat perlu ditempatkan sebagai subjek pembangunan agar mampu membangun kemandirian ekonomi.

“Kalau ekonomi masyarakat tumbuh dari bawah, negara tidak harus selalu hadir dengan proyek besar. Masyarakat harus menjadi subjek pembangunan, bukan sekadar objek kebijakan,” katanya.

Peluncuran dua buku tersebut dilakukan sekitar sepekan sebelum Muktamar ke-35 NU yang dijadwalkan berlangsung pada 27–31 Agustus 2026 di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, Jawa Timur.

Melalui dua buku itu, Gus Choi berharap momentum Muktamar NU dan HUT ke-81 RI dapat diarahkan pada penguatan pendidikan, pengentasan kemiskinan, pemberdayaan ekonomi, dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Editor : Hasiholan Siahaan

Bagikan Artikel Ini
Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.
News Update
Kanal
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
MNC Portal
Live TV
MNC Network