TANGERANG, iNewsTangsel.id - Industri kecantikan Indonesia terus berkembang dengan munculnya beragam kategori produk dan tren baru. Perkembangan tersebut tidak hanya terlihat pada skincare dan makeup, tapi juga merambah wellness, teknologi estetika, parfum hingga produk kecantikan yang berkaitan dengan kesehatan dari dalam.
Perkembangan itu terlihat dalam penyelenggaraan Cosmobeaute Indonesia 2026 di ICE BSD City, Kabupaten Tangerang, sejak Kamis (1/10/2026) hingga Sabtu (3/10/2026). Pameran kecantikan yang telah berlangsung sejak 2006 tersebut kini memperluas segmentasi untuk mengikuti perubahan kebutuhan pasar.
Deputy Event Director PT Pamerindo Indonesia, Kristi Wulandari menyebutkan, ada delapan segmen yang dikembangkan di pameran kali ini, antara lain skincare, wellness, suplemen kesehatan, teknologi estetika, mom and baby, hair, parfum, serta kategori pendukung kecantikan lainnya.
Perluasan tersebut dilakukan karena tren kecantikan kini semakin tidak terbatas pada perawatan dari luar tubuh. Konsumen mulai memperhatikan aspek kesehatan dan kebugaran secara lebih menyeluruh.
"Kalau dulu lebih banyak skincare, sekarang segmentasinya kami perluas. Ada wellness, teknologi, parfum dan beberapa kategori lainnya," katanya, Sabtu (3/10/2026).
Ia menjelaskan, salah satu kategori yang masih mendapat perhatian besar adalah makeup. Tren kecantikan global tetap menjadi salah satu referensi, tapi penerapannya di Indonesia perlu disesuaikan dengan karakter konsumen dan kondisi iklim.
"Perkembangan makeup artist juga ikut mendorong munculnya berbagai teknik baru. Tren yang berkembang tidak sekadar mengejar tampilan, tapi juga bagaimana teknik perawatan dan penggunaan produk dapat memberikan hasil yang lebih natural," ujar Kristi.
Di kategori rambut, misalnya, tren pewarnaan semakin mengarah pada warna-warna yang lebih lembut. Teknik pewarnaan juga mulai memperhatikan kondisi rambut agar perubahan warna tidak menimbulkan kerusakan berlebihan.
"Makeup artist sekarang berkembang sangat pesat. Mereka tidak hanya melihat tren dari luar, tetapi juga menyesuaikannya dengan karakter dan kebutuhan di Indonesia," imbuhnya.
Selain makeup dan rambut, lanjut Kristi, produk wellness menjadi salah satu kategori yang mulai mendapat perhatian. Produk seperti minuman kolagen, minuman olahraga, suplemen dan produk pengganti makanan mulai masuk dalam ekosistem industri kecantikan.
"Perubahan tersebut sejalan dengan meningkatnya perhatian masyarakat terhadap kesehatan secara menyeluruh. Kecantikan tidak lagi semata-mata dikaitkan dengan penampilan, tapi juga dengan kondisi tubuh dan kesejahteraan secara umum," ungkapnya.
Kristin mengungkapkan, perkembangan industri juga membuka peluang bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) untuk masuk ke pasar kecantikan. Sebenarnya, di pameran ini UMKM menjadi salah satu segmen yang mendapat perhatian.
"Salah satunya melalui penyediaan pilihan ukuran stan yang lebih kecil sehingga pelaku usaha dengan modal terbatas tetap memiliki kesempatan mengikuti pameran," ucapnya.
Ia mengakui, banyak produk kecantikan lokal memiliki kualitas yang cukup baik, tapi sebagian pelaku UMKM masih membutuhkan akses dan pengetahuan untuk memperluas pasar.
"Produk lokal Indonesia sebenarnya banyak yang bagus. Tantangannya bagaimana mereka bisa memperluas market," ujarnya.
Selain pasar domestik, menurutnya, produk lokal juga memiliki peluang untuk diperkenalkan ke pasar luar negeri. Namun, pelaku usaha perlu mempersiapkan karakter produk, kapasitas produksi, serta memenuhi regulasi negara tujuan.
"Kami juga mendorong pelaku usaha lokal agar tidak sekadar mengikuti tren global. Karakter Indonesia dinilai dapat menjadi pembeda ketika produk tersebut masuk ke pasar internasional. Jangan sampai karakter Indonesianya hilang. Tren dari luar bisa menjadi referensi, tetapi kita tetap punya kekayaan bahan dan karakter sendiri," tegasnya.
Kristi memparkan, minat pelaku industri kecantikan internasional terhadap Indonesia kembali meningkat setelah pandemi. Hal itu terlihat, dari komposisi peserta internasional dalam pameran kini telah kembali sekitar 60 persen.
"Indonesia memang memiliki potensi pasar yang besar di kawasan Asia Tenggara. Sejumlah pelaku industri dari negara lain juga mulai melihat peluang untuk membangun bisnis dan mencari mitra lokal. Namun, pemahaman terhadap regulasi menjadi salah satu hal penting bagi pelaku usaha asing yang ingin masuk ke Indonesia," katanya.
Menurutnya, sejumlah peserta internasional masih memiliki pemahaman yang berbeda-beda mengenai aturan kosmetik, termasuk proses registrasi dan ketentuan halal. Karena itu, edukasi mengenai regulasi menjadi bagian dari kegiatan pendukung pameran. Salah satunya, menggelar seminar dan webinar bersama pihak terkait agar peserta, khususnya dari luar negeri, memperoleh informasi yang lebih jelas," paparnya.
Editor : Elva Setyaningrum
Artikel Terkait
