JAKARTA, iNewsTangsel.id - Kerusakan hutan di hulu tak berhenti di daratan. Sedimentasi dan pencemaran dapat mengalir ke sungai, merusak pesisir, hingga mengancam ekosistem laut. Keterhubungan tersebut membuat pengelolaan lingkungan darat, pesisir, dan laut perlu dilakukan dalam satu perencanaan terpadu yang melibatkan pemerintah, masyarakat, dunia usaha, akademisi, hingga organisasi masyarakat sipil.
Deputi Bidang Pangan, Sumber Daya Alam, dan Lingkungan Hidup Kementerian PPN/Bappenas Leonardo A.A. Teguh Sambodo mengatakan, pengelolaan bentang darat dan laut tidak dapat dilakukan secara parsial. Maka, keterhubungan antara ekosistem darat, pesisir, dan laut perlu menjadi pertimbangan dalam penyusunan perencanaan serta kebijakan pembangunan.
"Karena masih adanya batas sektoral, sehingga menghambat pengelolaan lingkungan secara menyeluruh. Seharusnya, pengelolaan bentang darat dan laut tidak dapat dilakukan secara parsial,” kata Leonardo dalam SOLUSI Day: Integrasi Darat dan Laut untuk Indonesia Tangguh dan Lestari di Jakarta, Senin (28/9/2026).
Ia menjelaskan, dalam forum yang di dukung pemerintah Jerman ini membahas pengelolaan bentang darat dan laut atau land and seascapes (LaS) secara terpadu, termasuk persoalan deforestasi, sedimentasi, pencemaran, degradasi ekosistem pesisir, kehilangan keanekaragaman hayati, dan risiko bencana.
"Sejumlah dokumen strategis juga diluncurkan, antara lain indikator pengelolaan darat-laut terintegrasi, kajian bioprospeksi, pengarusutamaan gender dalam keanekaragaman hayati, strategi pendanaan inovatif, serta masterplan pengelolaan bentang darat dan laut Regional Padagimo di Sulawesi Tengah,' terangnya.
Menurut dia, indikator pengelolaan LaS tersebut dirancang untuk membantu memantau keterkaitan pengelolaan antarwilayah dan sektor. Parameter yang digunakan mencakup konektivitas darat-laut, tata kelola inklusif, pembangunan berkelanjutan, serta ketahanan masyarakat dan ekosistem.
"Program pengelolaan terpadu juga dikembangkan melalui pengalaman di tiga wilayah percontohan, yakni Kepulauan Bangka Belitung, Jawa Tengah, dan Sulawesi Tengah," imbuhnya.
Sementara itu, Program Manager Proyek SOLUSI GIZ Indonesia & ASEAN Yuliana Cahya Wulan menerangkan, tantangan lingkungan membutuhkan kerja sama lintas sektor karena dampaknya tidak mengenal batas administrasi maupun sektor.
“Pendekatan terintegrasi antara bentang darat dan laut membantu para pemangku kepentingan melihat hubungan antara ekosistem, masyarakat, dan kegiatan ekonomi sebagai satu kesatuan,” ujarnya.
Selain persoalan ekologis, lanjutnya, pengelolaan bentang darat dan laut juga berkaitan dengan masyarakat yang menggantungkan kehidupan pada sumber daya alam. Pemanfaatan keanekaragaman hayati untuk pangan, bahan baku industri, kesehatan, maupun produk bernilai tambah lainnya perlu memperhatikan daya dukung ekosistem serta hak dan pengetahuan masyarakat lokal.
"Salah satu isu yang dibahas adalah pengembangan bioprospeksi, yakni pemanfaatan sumber daya hayati secara berkelanjutan berbasis riset. Pengembangannya perlu tetap memperhatikan kelestarian ekosistem dan pembagian manfaat kepada masyarakat pemilik pengetahuan," terangnya.
Ia menegaskan, dimensi sosial juga menjadi bagian dari dokumen pengarusutamaan gender dalam keanekaragaman hayati. Pendekatan Gender Equality, Disability and Social Inclusion (GEDSI) digunakan untuk memperhatikan aspek akses terhadap sumber daya, distribusi manfaat, partisipasi, serta tata kelola.
"Untuk itu, perlindungan lingkungan tidak dapat dilepaskan dari kondisi masyarakat yang hidup di sekitar ekosistem. Karena eksplorasi ilmiah harus berjalan beriringan dengan perhatian terhadap masyarakat yang hidup dan bergantung pada ekosistem tersebut,” katanya.
Dengan tekanan terhadap lingkungan yang semakin kompleks, menurutnya, pengelolaan darat hingga laut secara terpadu dinilai menjadi bagian penting dalam menjaga ketahanan ekosistem.
"Pendekatan tersebut sekaligus menempatkan pembangunan ekonomi, perlindungan keanekaragaman hayati, dan keberlanjutan sumber penghidupan masyarakat dalam satu kerangka pengelolaan," tutup Yuliana.
Editor : Elva Setyaningrum
Artikel Terkait
