JAKARTA, iNewsTangsel.id - Makanan penutup (dessert) kini tak lagi sekadar menjadi hidangan penutup. Perkembangan gaya hidup masyarakat urban turut mengubah dessert menjadi bagian dari pengalaman kuliner yang mengutamakan cita rasa, tekstur, hingga tampilan.
Tren tersebut terlihat dari munculnya berbagai kreasi dessert berbasis cokelat yang ramai diperbincangkan, mulai dari Pistachio Knafeh Chocolate atau Dubai Chocolate, Crookie yang memadukan croissant dan cookie, hingga kue cokelat berlapis dengan perpaduan sponge cake, salted caramel, dan ganache.
Perubahan selera konsumen juga membuat perhatian terhadap bahan baku semakin besar. Konsumen tidak hanya mempertimbangkan tampilan dessert, tetapi mulai memperhatikan karakter rasa, tekstur, serta kualitas bahan yang digunakan.
Secara global, tren tersebut sejalan dengan pertumbuhan pasar cokelat premium. Grand View Research memproyeksikan pasar premium chocolate mencapai USD40,6 miliar pada 2030, dengan pertumbuhan tahunan rata-rata 4,3 persen sepanjang 2025-2030. Pertumbuhan antara lain didorong popularitas artisan chocolate, budaya kafe, serta meningkatnya minat terhadap produk berbahan kakao berkualitas tinggi.
Managing Director ASEAN Barry Callebaut Group Ciptadi Sukono mengatakan, di kalangan profesional pastry, salah satu bahan yang banyak digunakan untuk menghasilkan karakter cokelat yang konsisten adalah couverture chocolate. Jenis cokelat ini memiliki kandungan cocoa butter lebih tinggi dibandingkan cokelat biasa sehingga lebih sesuai untuk sejumlah teknik pengolahan pastry dan confectionery.
"Perubahan preferensi konsumen ikut mendorong peningkatan standar dalam pembuatan dessert. Konsumen saat ini tidak hanya mencari dessert yang enak, tetapi juga pengalaman menikmati dessert yang memiliki karakter rasa, tekstur, dan kualitas yang konsisten," ujar Ciptadi, dal keterangan, Jumat (2/10/2026).
Menurut dia, kualitas bahan baku menjadi salah satu faktor penting karena berpengaruh terhadap hasil akhir dessert, terutama ketika produk membutuhkan teknik pengolahan tertentu.
Sementara itu, Head Chef Callebaut Chocolate Academy Singapore Amanda Lim mengungkapkan, cokelat yang digunakan dalam pastry perlu memiliki karakter yang stabil ketika dilelehkan, dicetak, maupun dikombinasikan dengan bahan lain.
"Konsistensi tersebut memungkinkan kami menghasilkan produk dengan kualitas yang sama setiap saat, sekaligus memberikan ruang untuk terus berkreasi," kata Amanda.
Menurutnya, preferensi terhadap dessert juga mengalami perubahan. Jika sebelumnya makanan penutup cenderung identik dengan rasa manis yang kuat, konsumen kini semakin mengenal keseimbangan rasa, karakter kakao, serta tekstur yang lebih kompleks.
"Fenomena tersebut turut mendorong berkembangnya specialty cafe, artisan bakery, hotel, dan restoran yang menawarkan beragam dessert dengan pendekatan yang lebih kreatif," imbuhnya.
Bagi konsumen, perkembangan ini membuat pengalaman menikmati dessert tidak lagi hanya berkaitan dengan rasa manis. Perpaduan tekstur renyah dan lembut, keseimbangan rasa manis dan pahit, serta aroma kakao menjadi bagian dari pengalaman kuliner yang semakin diperhatikan.
Di sisi lain, perkembangan tren dessert juga membuat kemampuan teknik pengolahan menjadi semakin penting bagi pelaku pastry. Pemilihan bahan baku harus disesuaikan dengan karakter produk dan teknik yang digunakan agar rasa dan tekstur yang dihasilkan tetap konsisten.
Tren tersebut menunjukkan, perkembangan dessert premium tidak semata-mata ditentukan oleh tampilan yang menarik. Kualitas bahan, keterampilan pengolahan, serta kemampuan memadukan rasa dan tekstur menjadi bagian penting dari evolusi kuliner dessert.
Editor : Elva Setyaningrum
Artikel Terkait
