BANTEN, iNewsTangsel.id - Indonesia mulai mematangkan langkah menuju pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) untuk memenuhi kebutuhan energi jangka panjang. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengungkapkan telah mengidentifikasi 28 lokasi potensial yang dapat dikaji lebih lanjut untuk mendukung pengembangan pembangkit nuklir.
Rencana tersebut mengemuka di tengah meningkatnya kebutuhan listrik untuk industri, pusat data, dan pengembangan kecerdasan buatan (AI). Pemerintah menargetkan PLTN komersial pertama berkapasitas 250 megawatt (MW) mulai beroperasi pada 2032, sebagaimana tercantum dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PLN 2025–2034.
Kepala Organisasi Riset Tenaga Nuklir BRIN, Syaiful Bakhri, menilai Indonesia telah memiliki sejumlah modal penting untuk memulai pengembangan PLTN, mulai dari sumber daya manusia hingga teknologi yang tersedia secara komersial. Namun, pembangunan pembangkit nuklir tetap membutuhkan persiapan menyeluruh, termasuk pemilihan lokasi, pendanaan, keselamatan, dan pengelolaan limbah.
“Bagi kita [BRIN], saya pikir Indonesia sudah siap dengan berbagai komponen tadi sebenarnya. Mulai dari tapak sudah ada, SDM kita tidak kekurangan,” kata Syaiful dalam diskusi kelompok terarah bertajuk Kupas Tuntas Energi Masa Depan, Jumat (9/10/2026).
Menurut Syaiful, Indonesia tidak harus menunggu teknologi reaktor generasi baru untuk merealisasikan pembangunan PLTN. Reaktor berkapasitas besar yang telah tersedia secara komersial dapat menjadi salah satu pilihan untuk memenuhi kebutuhan listrik nasional.
“Kita tinggal pilih sebenarnya. Banyak yang sekarang ready untuk kita pesan, terutama yang large, bukan yang small modular reactor,” ujarnya.
Editor : Hasiholan Siahaan
Artikel Terkait
