Menurut dia, suara yang tidak diketahui sumbernya memberi ruang bagi penonton untuk membayangkan sendiri sosok atau ancaman di baliknya. Pendekatan ini menjadi salah satu cara Hasut membangun ketegangan tanpa bergantung pada formula horor konvensional.
Selain menghadirkan misteri, film ini juga mengeksplorasi tema luka batin dan pengaruh suara-suara dari luar yang dapat memengaruhi keyakinan seseorang terhadap dirinya sendiri.
Bagi Ilya, tema tersebut memiliki keterkaitan dengan perjalanan personalnya di industri perfilman. Ia menilai, keraguan dan pengaruh eksternal terkadang dapat menghambat seseorang untuk memulai sesuatu yang baru.
Hasut sekaligus menandai debut penyutradaraan film panjang Ilya Sigma setelah berkiprah sebagai penulis skenario sejak 2010. Ia sebelumnya terlibat dalam sejumlah film, antara lain Catatan Harian Si Boy (2011), Rectoverso: Curhat Buat Sahabat (2013), Sundul Gan: The Story of Kaskus (2016), dan A Man Called Ahok (2018).
Film Hasut diproduksi oleh Tuta Films, dengan Putrama Tuta dan Siera Tamihardja sebagai produser serta Nick Musa sebagai ko-produser. Film yang dibintangi Karina Salim, Rachel Amanda, Marthino Lio, dan Kevin Ardilova ini sedang tayang di bioskop Indonesia.
Editor : Hasiholan Siahaan
Artikel Terkait
