Lindungi Anak Indonesia, Program Keluarga SIGAP Integrasikan Imunisasi dan Gizi
JAKARTA, iNewsTangsel.id - Perluasan Program Keluarga SIGAP ke Brebes (Jawa Tengah), Sukabumi (Jawa Barat), dan Banjar (Kalimantan Selatan) menunjukkan dampak nyata pada dua fondasi utama kesehatan anak: imunisasi dan gizi. Program kolaboratif ini memperkuat layanan kesehatan primer dengan mengintegrasikan pesan kesehatan ke dalam praktik pengasuhan sehari-hari di tingkat keluarga.
Di sektor imunisasi, SIGAP berkontribusi pada peningkatan rata-rata cakupan imunisasi dasar anak hingga sekitar 15 persen di wilayah scale-up. Kabupaten Banjar mencatat kenaikan paling signifikan, dari 37 persen menjadi 59 persen. Peningkatan ini tidak hanya mencerminkan perluasan akses, tetapi juga tumbuhnya kepercayaan orang tua terhadap vaksin.
“Dengan mengaitkan imunisasi pada praktik pengasuhan harian seperti gizi dan kebersihan, keluarga menjadi lebih percaya dan konsisten menyelesaikan imunisasi rutin anak,” ujar Augustin Flory, Managing Director of Innovative Partnerships Gavi, the Vaccine Alliance, Kamis (15/1/2026).
Kepercayaan tersebut tercermin dari melonjaknya cakupan dosis lanjutan. Di Brebes, cakupan dosis akhir pneumonia hampir dua kali lipat, sementara booster polio di Banjar mencapai sekitar 80 persen. Lebih dari 80 persen orang tua pengguna WhatsApp Bot SIGAP juga memilih menerima pengingat imunisasi yang dipersonalisasi.
Selain imunisasi, perbaikan praktik gizi menjadi capaian penting. Program ini mendorong peningkatan kualitas pemberian makan anak pada 1.000 hari pertama kehidupan. Praktik inisiasi menyusu dini naik 4,4 persen, sementara proporsi anak yang mencapai Keanekaragaman Pangan Minimum meningkat 6,8 persen. “SIGAP menunjukkan bahwa dukungan gizi paling efektif ketika dilakukan di rumah, setiap hari, dengan alat praktis dan pendampingan tenaga kesehatan,” kata Chris Skeet, CEO The Power of Nutrition.
Sebanyak 96 persen pengguna menyatakan alat pelacak gizi SIGAP membantu mereka memahami pola makan anak dan mengambil keputusan pemberian makan yang lebih sesuai usia. Pendekatan ini juga mendorong keterlibatan ayah dalam pemenuhan gizi anak, memperkuat peran pengasuhan bersama di tingkat keluarga.
Pemerintah menilai pendekatan terintegrasi ini sejalan dengan penguatan layanan kesehatan primer. “Melalui Keluarga SIGAP, masyarakat tidak hanya tahu, tetapi benar-benar mengubah perilaku kesehariannya. Ini penting untuk menyiapkan generasi yang lebih sehat,” ujar dr. Niken Wastu Palupi, Direktur Promosi Kesehatan dan Kesehatan Komunitas Kementerian Kesehatan.
Editor : Hasiholan Siahaan