Melestarikan Tradisi Kenduri dalam Sajian Kuliner Nusantara
JAKARTA, iNewsTangsel.id - Di tengah maraknya restoran modern dan konsep cepat saji, Puja Bumi Kenduri menawarkan pendekatan berbeda dalam dunia kuliner. Restoran ini mengusung tradisi kenduri sebagai inspirasi utama, menghadirkan sajian Nusantara yang menekankan nilai kebersamaan, penghormatan pada alam, dan warisan budaya kuliner Indonesia.
Perwakilan Owner dari Mantara Group, Rezha Raditya menjelaskan, konsep kenduri yang diangkat restoran ini tidak hanya tercermin dari menu, tetapi juga dari cara penyajian dan suasana ruang makan.
“Hidangan disajikan sebagai simbol rasa syukur dan perayaan, selaras dengan tradisi masyarakat Nusantara yang menjadikan makanan sebagai bagian penting dari ritual sosial dan budaya,” katanya di Jakarta, Selasa (27/1/2026).
Menurut Reza, di tengah perubahan pola konsumsi masyarakat perkotaan, kehadiran resto ini mencerminkan upaya menjaga identitas kuliner lokal agar tetap relevan. Sehingga resto ini menjadi ruang perjumpaan antara generasi muda dengan tradisi makan bersama yang kini semakin jarang dijumpai.
“Tren kuliner saat ini tidak hanya berbicara soal rasa, tetapi juga pengalaman dan nilai yang menyertainya. Melalui pendekatan berbasis budaya, kami ingin menunjukkan kalau kuliner Nusantara memiliki daya tarik kuat sebagai bagian dari narasi identitas dan keberlanjutan budaya Indonesia,” imbuh Reza.
Sementara itu, Kepala Koki Puja Bumi Kenduri, Chef Ray Villian menambahkan, menu yang dihadirkan mengolah ragam masakan tradisional Indonesia dengan pendekatan autentik, menggunakan bahan-bahan lokal yang akrab dengan dapur masyarakat.
“Cita rasa khas daerah dipertahankan melalui teknik memasak tradisional, sekaligus memperkenalkan kembali filosofi di balik setiap hidangan kepada pengunjung,” ujar Chef Ray.
Dia memaparkan, untuk proses kurasi atau development menu memakan waktu hingga satu bulan untuk merampungkan sekitar 90 hidangan yang kini bisa dinikmati pengunjung.
“Untuk menghidangkan semua menu yang ada, kami terjun langsung menjelajah berbagai daerah di Indonesia melalui perjalanan rasa. Sehingga menu di resto ini mejanjikan cita rasa yang tetap relevan dan dapat diterima oleh lidah masyarakat,” ungkapnya.
Dia mengatakan, misalnya menu Palapa Kelor Mesanten yang merupakan menu utama pada upacara Bali. Aslinya, menu itu memakai ikan. Tapi, di resto ini diganti dengan daun kelor.
“Cara penyajiannya sama seperti yang di Bali, dengan memanfaatkan buah kelapa utuh dari batoknya, airnya, sampai daging kelapanya. Lalu, dicampur dengan rempah dan bumbu khas Bali,” terang Chef Ray.
Editor : Elva Setyaningrum