Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Aa Text
Share:
Read Next : Makanan Sehat Jadi Perhatian, 80 Persen Konsumen Indonesia Rela Bayar Lebih
Advertisement . Scroll to see content

Hari Obesitas Sedunia: Ramadan Jadi Momentum Tekan Obesitas dan Batasi Konsumsi Gula Berlebih

Rabu, 04 Maret 2026 | 14:05 WIB
  • author Eka Maria
Hari Obesitas Sedunia: Ramadan Jadi Momentum Tekan Obesitas dan Batasi Konsumsi Gula Berlebih
Strategi untuk melawan obesitas pada anak dapat dilakukan melalui edukasi gizi sejak dini, meningkatkan aktivitas fisik, dan adanya kebijakan pemerintah. Foto dok iNews

JAKARTA, iNewsTangsel.id - Angka obesitas di Indonesia terus menunjukkan tren peningkatan. Data terbaru mencatat prevalensi obesitas pada penduduk usia 18 tahun ke atas naik dari 21,8 persen pada 2018 menjadi 23,4 persen pada 2023. Kenaikan ini menegaskan obesitas sebagai persoalan kesehatan serius yang kian meluas di tengah masyarakat.

Obesitas umumnya dipicu oleh konsumsi kalori berlebih dalam jangka panjang, terutama dari makanan dan minuman tinggi gula, garam, dan lemak. Pangan olahan dan siap saji disebut masih menjadi kontributor utama asupan kalori harian masyarakat.

Memperingati Hari Obesitas Sedunia, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia mengajak masyarakat lebih cermat memilih pangan olahan sebagai langkah pencegahan obesitas. Upaya ini merupakan bagian dari kampanye edukatif #BatasiGGL yang telah dijalankan sejak 2013 bersama Kementerian Kesehatan dan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).

Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular (P2PTM) Kementerian Kesehatan RI, Dr. Siti Nadia Tarmizi, menegaskan obesitas bukan sekadar persoalan penampilan, melainkan penyakit kronis yang meningkatkan risiko diabetes, hipertensi, hingga penyakit jantung.

“Sebagian besar asupan kalori harian masyarakat masih berasal dari pangan olahan dan siap saji. Karena itu, penting menerapkan pola makan seimbang, memperhatikan porsi, dan menghindari konsumsi berlebihan agar risiko obesitas dapat ditekan,” ujarnya, Rabu (4/3/2026).

Ia juga mendorong masyarakat meningkatkan literasi gizi dengan membaca label kemasan, memahami takaran saji, energi total, persentase Angka Kecukupan Gizi (AKG), serta komposisi bahan. Selain itu, momentum Ramadan dinilai dapat dimanfaatkan untuk melatih pengendalian konsumsi gula, garam, dan lemak, bukan sekadar menahan lapar dan dahaga.

Editor: Hasiholan Siahaan

Related News

Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.

Latest News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut