get app
inews
Aa Text
Read Next : Obesitas Indonesia Peringkat 3 Asia Tenggara, Dokter Soroti Food Noise

‎Dokter Ungkap Operasi Bariatrik Efektif Atasi Obesitas dan Penyakit Penyerta

Rabu, 20 Mei 2026 | 22:57 WIB
header img
dr. Errawan Wiradisuria menjelaskan operasi bariatrik bisa jadi solusi efektif untuk menangani obesitas pada pasien yang memiliki komorbid. (Foto: Elva)

JAKARTA, iNewsTangsel.id - Operasi bariatrik (bedah metabolik) menjadi salah satu solusi efektif untuk menangani obesitas, terutama pada pasien dengan berat badan berlebih yang sudah menimbulkan penyakit penyerta (komorbid). Namun, operasi bariatrik bukan langkah pertama dalam menangani obesitas. Pasien tetap dianjurkan lebih dahulu menjalani pola hidup sehat seperti diet, olahraga, hingga terapi obat.

‎Dokter Spesialis Bedah Subspesialis Digestif Konsultan dari RS Premier Bintaro, dr. Errawan Wiradisuria menjelaskan, obesitas bukan sekadar masalah penampilan, tapi merupakan penyakit kronis yang dapat memicu berbagai gangguan kesehatan serius seperti hipertensi, diabetes, sakit jantung, gangguan tidur akibat ngorok berat, nyeri lutut, hingga ketidakseimbangan hormon pada perempuan.

‎“Pada orang dengan obesitas, banyak ditemukan penyakit penyerta atau komorbid seperti diabetes, hipertensi, sakit lutut, hingga gangguan hormonal. Karena itu obesitas harus ditangani serius,” katanya, Rabu (20/5/2026).

‎Ia menjelaskan, salah satu cara mengetahui tingkat obesitas adalah melalui Indeks Massa Tubuh (IMT) atau Body Mass Index (BMI). Perhitungannya dilakukan dengan membagi berat badan dengan tinggi badan kuadrat dalam meter.

‎"Pasien dengan BMI di atas 35 umumnya sudah dapat dipertimbangkan menjalani operasi bariatrik, terlebih jika disertai penyakit penyerta. Sedangkan, pasien dengan BMI 30 hingga 35 masih dapat menjalani operasi apabila memiliki komorbid tertentu," ungkapnya. 

‎Dia memaparkan, prosedur bariatrik yang paling banyak dilakukan saat ini adalah sleeve gastrectomy atau pengecilan lambung. Dalam prosedur tersebut, sekitar 70 persen lambung dipotong sehingga kapasitas makan berkurang dan hormon pemicu rasa lapar ikut menurun.

‎"Selain itu terdapat prosedur bypass lambung dan pemotongan sebagian usus pada kasus obesitas berat dengan BMI di atas 50. Tindakan tersebut bertujuan mengurangi penyerapan makanan sehingga penurunan berat badan lebih efektif," terangnya.

‎Meski efektif, lanjutnya, pasien yang menjalani operasi bariatrik harus berkomitmen menjalani perubahan pola hidup secara permanen. Pasien hanya dapat makan dalam porsi kecil namun lebih sering, yakni sekitar enam hingga delapan kali sehari dengan pengaturan gizi ketat.

‎“Setelah operasi, pasien wajib olahraga, menjaga pola makan, rutin kontrol, serta menghindari rokok dan alkohol,” tegasnya.

‎Dia menambahkan, operasi dilakukan menggunakan teknologi laparoskopi minimal invasif dengan alat khusus dan steples berbahan titanium yang aman berada di dalam tubuh. Teknologi ini membuat luka operasi lebih kecil dan proses pemulihan lebih cepat.

‎"Sebelum menjalani operasi, pasien juga harus melewati pemeriksaan menyeluruh oleh dokter jantung, paru, penyakit dalam, psikolog, hingga dokter anestesi untuk memastikan kondisi tubuh aman menjalani tindakan bedah," imbuhnya.

Editor : Elva Setyaningrum

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut