get app
inews
Aa Text
Read Next : Data Kemenkes: 75% Kematian di Indonesia Disebabkan Penyakit Tidak Menular

Aritmia Sering Tak Bergejala, Pentingnya Deteksi Dini untuk Cegah Stroke

Kamis, 05 Maret 2026 | 22:45 WIB
header img
Kolaborasi pemerintah, organisasi profesi, dan penyedia layanan kesehatan dalam Kampanye “Let’s Check The Beat. (Foto: Elva)

JAKARTA, iNewsTangsel.id - Penyakit kardiovaskular masih menjadi penyebab kematian terbesar di dunia. Berdasarkan data World Health Organization (WHO) pada 2022, penyakit ini menyebabkan sekitar 19,8 juta kematian secara global. Salah satu gangguan jantung yang banyak terjadi adalah aritmia atau gangguan irama jantung, terutama Atrial Fibrillation (AF). 

Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular (PTM) Kementerian Kesehatan (Kemenkes), dr. Siti Nadia Tarmizi mengatakan, sekitar sepertiga pasien AF tidak menunjukkan gejala, sehingga banyak kasus tidak terdeteksi sampai terjadi komplikasi seperti stroke atau gagal jantung. 

“Jika, AF tidak tertangani dapat meningkatkan risiko stroke secara signifikan. Sehingga kondisi ini bisa menyebabkan seseorang tiba-tiba pingsan atau bahkan meningkatkan risiko kematian,” ujarnya, disela-sela peluncuran Kampanye “Let’s Check The Beat”, Kamis (5/3/2026). 

Dia menjelaskan, alasan pentingnya skrining dan deteksi dini. Bahkan, pemerintah telah melakukan berbagai langkah konkret, antara lain penguatan edukasi masyarakat melalui kampanye gaya hidup sehat dengan pesan CERDIK. 

“Untuk mendukung diagnosis penyakit jantung di layanan primer, kami melakukan  program Cek Kesehatan Gratis (CKG) untuk meningkatkan skrining dan deteksi dini faktor risiko dan penyakit jantung serta penyediaan alat elektrokardiogram (EKG) di Puskesmas,” terangnya. 

Menurut dia, upaya deteksi awal dapat dilakukan secara sederhana oleh masyarakat tanpa harus langsung ke rumah sakit.

“Masyarakat bisa memulai dengan memeriksa denyut nadi secara mandiri, lalu mengajarkan cara tersebut kepada keluarga maupun teman untuk mengetahui apakah irama jantung normal atau tidak. Jika ditemukan kejanggalan, baru datang ke fasilitas kesehatan untuk pemeriksaan lebih lanjut,” ungkapnya. 

Dia menjelaskan, untuk itu kolaborasi antara pemerintah, organisasi profesi, dan penyedia layanan kesehatan sangat dibutuhkan untuk memperluas edukasi kepada masyarakat agar deteksi dini dapat dilakukan lebih luas.

“Selain itu, kami juga menjalankan program cek kesehatan gratis yang menargetkan sekitar 140 juta masyarakat, khususnya kelompok usia di atas 40 tahun yang memiliki faktor risiko seperti hipertensi dan diabetes,” terangnya. 

Sementara itu, Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah yang juga Konsultan Aritmia serta Kepala Staf Medis Fungsional Bidang Kardiologi Siloam Hospitals TB Simatupang Prof. Dr. dr. Yoga Yuniadi menerangkan, secara global hingga 40 persen kasus stroke iskemik berkaitan dengan atrial fibrilasi.

“Di Indonesia, pasien AF cenderung lebih muda dibandingkan negara maju. Hal ini menjadi perhatian karena stroke yang dipicu AF dapat menyerang usia produktif,” ucapnya. 

Untuk itu, be lanjut dia, masyarakat dianjurkan melakukan pemeriksaan sederhana dengan meraba denyut nadi selama sekitar 30 detikuntuk mengetahui apakah irama jantung teratur atau tidak. 

“Selain itu, teknologi seperti smartwatch maupun aplikasi kesehatan di ponsel juga dapat dimanfaatkan sebagai alat skrining awal. Tapi hasil dari perangkat tersebut tetap perlu dikonfirmasi melalui pemeriksaan medis seperti EKG di fasilitas kesehatan,” terangnya. 

Dengan semakin luasnya edukasi dan pemanfaatan teknologi, diharapkan masyarakat dapat mendeteksi gangguan irama jantung lebih awal sehingga risiko komplikasi serius seperti stroke dapat dicegah.

“Terapi AF mencakup pengendalian faktor risiko, pencegahan stroke, pengaturan laju atau irama jantung, serta evaluasi berkala. Salah satu penanganan efektif adalah ablasi kateter untuk mengembalikan irama jantung ke kondisi normal,” jelasnya.

Editor : Elva Setyaningrum

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut