Tumor Otak Diam-Diam Mengintai, Ini Peringatan Serius dari RSPON
JAKARTA, iNewsTangsel.id - Kasus penyakit saraf di Indonesia terus menunjukkan tren peningkatan, mulai dari gangguan neurologi ringan hingga kasus kompleks seperti kelainan pembuluh darah otak dan tumor.
Kondisi ini menuntut penanganan yang semakin presisi, cepat, dan terintegrasi, seiring kebutuhan layanan kesehatan modern yang mampu menjawab kompleksitas penyakit saraf di Tanah Air.
Di sisi lain, kasus tumor otak juga menjadi perhatian serius karena dapat berasal dari jaringan otak (primer) maupun penyebaran kanker dari organ lain (metastasis). Diperkirakan sekitar 15–30 persen kasus tumor otak merupakan metastasis yang umumnya berasal dari kanker paru, payudara, dan ginjal.
Tingginya kasus ini mendorong kebutuhan teknologi penanganan minim invasif agar pasien tidak harus menjalani operasi terbuka atau berobat ke luar negeri.
Direktur Utama Rumah Sakit Pusat Otak Nasional Prof. Dr. dr. Mahar Mardjono, Adin Nulkhasanah, menyatakan bahwa kebutuhan terhadap teknologi radiosurgery semakin meningkat dalam penanganan kasus saraf.
Menurutnya, penguatan sistem rujukan nasional menjadi kunci agar pasien dapat memperoleh layanan yang terintegrasi dan efektif. “Melalui kolaborasi layanan, pasien dapat mengakses teknologi penanganan modern dengan alur yang lebih terkoordinasi, sehingga proses diagnosis hingga terapi dapat berjalan lebih optimal,” ujarnya, Selasa (12/5/2026).
Dikesempatan yang sama, Presiden Direktur Siloam, David Utama, menambahkan bahwa kerja sama ini juga menjadi bagian dari upaya menghadirkan layanan kesehatan berkualitas yang lebih mudah diakses masyarakat. “Kami ingin memastikan pasien mendapatkan penanganan terbaik di dalam negeri,” katanya.
Selain layanan klinis, kolaborasi ini juga mencakup program edukasi, seminar, dan pelatihan tenaga medis guna meningkatkan kapasitas penanganan penyakit saraf di Indonesia.
Senada, Direktur GKCI, Albern Kusuma, mengatakan kolaborasi ini menjadi langkah strategis untuk menjawab kebutuhan penanganan kasus neurologi yang semakin kompleks. “Dengan teknologi presisi tinggi, pasien kini memiliki alternatif pengobatan tanpa harus ke luar negeri,” ujarnya.
Dengan meningkatnya kasus tumor otak dan gangguan neurologi lainnya, kehadiran layanan radiosurgery yang minim invasif diharapkan mampu mempercepat akses pengobatan, sekaligus menekan kebutuhan pasien mencari layanan medis ke luar negeri.
Editor : Hasiholan Siahaan