Teknologi Radioterapi Adatif Bikin Pengobatan Kanker Lebih Tepat Sasaran
JAKARTA, iNewsTangsel.id -Perkembangan teknologi dalam pengobatan kanker terus menghadirkan inovasi baru yang lebih tepat sasaran dan aman bagi pasien. Salah satu terobosan yang kini mulai diterapkan adalah radioterapi adaptif, yakni metode penyinaran kanker yang mampu menyesuaikan kondisi tubuh pasien secara real time sebelum tindakan radiasi dilakukan.
Dokter spesialis Onkologi Radiasi MRCCC Siloam Semangi, dr Denny Handoyo Kirana menjelaskan, selama ini proses radioterapi konvensional umumnya hanya melakukan perencanaan satu kali di awal terapi. Padahal, kondisi organ tubuh pasien dapat berubah setiap hari sehingga posisi target radiasi bisa bergeser.
“Radioterapi itu tidak dilakukan satu kali. Ada pasien yang menjalani 10, 20, bahkan sampai 38 kali penyinaran. Masalahnya, kalau perencanaannya hanya di awal, sementara kondisi tubuh berubah, maka target penyinaran bisa menjadi kurang akurat,” ujarnya dalam workshop radioterapi adaptif dalam rangkaian Siloam Oncology Summit 2026, Jumat (23/5/2026).
Menurutnya, perubahan sederhana seperti kondisi kandung kemih penuh, perut kenyang, atau perubahan ukuran organ saat puasa dapat memengaruhi posisi tumor dan organ sehat di sekitarnya. Karena itu, teknologi radioterapi adaptif hadir untuk memastikan area yang disinar tetap tepat sasaran setiap kali terapi dilakukan.
“Sekarang sebelum pasien ditembak radiasi, dicek ulang dulu kondisi real time-nya lalu disesuaikan. Baru dilakukan penyinaran," ujarnya.
Ia menerangkan, teknologi terbaru memungkinkan penyesuaian dilakukan secara online dan cepat, berbeda dengan metode sebelumnya yang membutuhkan waktu berjam-jam hingga beberapa hari untuk menyesuaikan ulang perencanaan radiasi.
"Dulu, proses menggambar area target radiasi secara manual bisa memakan waktu 1 hingga 4 jam karena dokter harus membuat garis satu per satu. Kini, dengan bantuan kecerdasan buatan (AI), dokter tinggal melakukan review proses tersebut dapat dipersingkat menjadi sekitar dua menit," paparnya.
Ia mengungkapkan, teknologi ini sangat bermanfaat terutama pada kanker yang melibatkan organ bergerak, seperti kanker prostat, usus, serviks, maupun payudara. Organ-organ tersebut dapat berubah posisi atau ukuran setiap hari sehingga membutuhkan penyesuaian radiasi yang lebih presisi.
Ia menegaskan, penerapan radioterapi adaptif terbukti mampu menurunkan efek samping secara signifikan, khususnya pada pasien kanker prostat seperti sulit menahan buang air kecil berkurang sampai 44 persen dibanding radioterapi biasa.
"Selain itu, gangguan pada saluran pencernaan seperti diare dan perdarahan akibat paparan radiasi pada rektum juga menurun secara signifikan. Pada pasien usia lanjut, manfaat pengurangan efek samping dapat mencapai sekitar 20 persen. Sedangkan, pada pasien usia muda bahkan bisa mencapai 50 hingga 60 persen," imbuh dr. Denny.
Pada kesempatan yang sama dokter Spesialis Onkologi Radiasi, dr. Mirna Primasari menambahkan, sekitar 50 hingga 55 persen kasus kanker memerlukan terapi radiasi dalam penanganannya. Namun, penerapan radioterapi tergantung jenis dan stadium kanker.
“Ada kanker yang perlu operasi dulu baru radiasi, seperti payudara. Ada juga yang hasilnya bisa setara antara operasi dan radiasi, seperti kanker pita suara stadium awal,” ujarnya.
Editor : Elva Setyaningrum