Banyak Kasus Kanker Baru Diketahui Saat Sudah Parah, Deteksi Dini Masih Rendah
JAKARTA, iNewsTangsel.id -Penanganan kanker di Indonesia masih menghadapi sejumlah tantangan, mulai dari rendahnya deteksi dini hingga kebutuhan akan layanan yang lebih terintegrasi dan berbasis kebutuhan pasien. Pendekatan pengobatan yang lebih personal dan kolaboratif dinilai menjadi arah penting dalam meningkatkan kualitas terapi kanker ke depan.
Executive Director MRCCC Siloam Semanggi, dr. Edy Gunawan mengungkapkan, data Global Cancer Observatory (GLOBOCAN) 2022 mencatat, sekitar 408.661 kasus baru kanker di Indonesia, dengan angka kematian mencapai 242.099 jiwa. Jenis kanker yang paling banyak ditemukan meliputi kanker payudara, leher rahim, paru-paru, dan kolorektal. Namun, lebih dari 60–70 persen pasien baru terdiagnosis pada stadium lanjut, yang memperkecil peluang keberhasilan terapi.
"Kondisi ini menunjukkan masih rendahnya kesadaran masyarakat terhadap pentingnya deteksi dini, serta perlunya penguatan sistem rujukan dan layanan kanker terpadu. Selain itu, kapasitas tenaga kesehatan dan pemerataan akses layanan juga menjadi faktor penting dalam meningkatkan penanganan kanker secara nasional," katanya, Selasa (5/5/2026).
Dijelaskan, perkembangan teknologi medis mulai mendorong perubahan dalam pendekatan terapi kanker. Salah satunya melalui konsep precision oncology, yaitu pengobatan yang disesuaikan dengan karakteristik biologis masing-masing pasien. Pendekatan ini memungkinkan terapi yang lebih tepat sasaran dan berpotensi meningkatkan efektivitas pengobatan.
"Radioterapi tetap menjadi salah satu pilar utama dalam penanganan kanker. Inovasi teknologi seperti CT-LINAC (Computed Tomography Linear Accelerator) memungkinkan visualisasi tumor secara real-time, sehingga terapi radiasi dapat disesuaikan dengan kondisi pasien secara lebih presisi. Pendekatan ini dikenal sebagai adaptive radiotherapy, yang berfokus pada penyesuaian terapi secara dinamis," terang dr. Edy.
Dipaparkan, pemanfaatan teknologi CT-LINAC sejalan dengan fokus onkologi presisi yang diangkat dalam The 6th Siloam Oncology Summit 2026, yang akan digelar di Jakarta pada 22-24 Mei 2026. Diharapkan, kegiatan tersebut dapat memperkuat kolaborasi multidisiplin dan menjembatani keahlian global dengan praktik klinis di Indonesia.
"Selain teknologi, kolaborasi lintas disiplin melalui pendekatan Multidisciplinary Team (MDT) juga krusial. Melibatkan berbagai spesialis, mulai dari onkologi, radiologi, hingga patologi, pendekatan ini membantu memastikan keputusan terapi yang lebih komprehensif dan terkoordinasi," imbuhnya.
Editor : Elva Setyaningrum