KLH Perkuat Mitigasi Emisi Metana Sektor Sampah Lewat Proyek ASEAN-Korea
JAKARTA, iNewsTangsel.id - Kementerian Lingkungan Hidup memperkuat langkah pengurangan emisi gas rumah kaca, khususnya sektor pengelolaan sampah, melalui proyek ASEAN-Korea Cooperation for Methane Mitigation (AKCMM). Proyek ini berfokus pada penanganan sampah organik dan mitigasi emisi metana. lndonesia menjadi negara ASEAN ketiga yang menjalankan program tersebut setelah Malaysia dan Filipina.
Menteri Lingkungan Hidup/Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (BPLH), Moh. Jumhur Hidayat mengatakan, pengelolaan sampah kini menjadi bagian penting dalam agenda aksi iklim nasional. Dominasi sampah organik di tempat pembuangan akhir (TPA) menjadi salah satu sumber utama emisi metana di Indonesia.
“Pengelolaan sampah bukan sekadar masalah kebersihan, melainkan pilar krusial dalam aksi iklim kita. Melalui proyek ini, Indonesia berkomitmen untuk menghubungkan solusi praktis di lapangan dengan target penurunan emisi metana yang ambisius,” ujar Jumhur, Kamis (28/5/2026).
Ia menjelaskan, sekitar 63 persen sampah di TPA Indonesia merupakan material organik dengan potensi emisi mencapai 21 juta ton CO₂e. Karena itu, pemerintah mendorong penguatan sistem pengelolaan limbah yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan.
"Melalui proyek ini, Indonesia diharapkan mampu memperkuat sistem pemantauan emisi, mendorong investasi hijau, serta mempercepat transformasi pengelolaan sampah menjadi bagian penting dalam strategi mitigasi perubahan iklim nasional," terangnya.
Sementara itu, Duta Besar Misi Republik Korea untuk ASEAN, LEE Chul mengungkapkan, mitigasi metana menjadi salah satu langkah paling efektif untuk menahan laju pemanasan global dalam jangka pendek.
“Republik Korea bangga dapat bermitra dengan Indonesia dan ASEAN melalui AKCF. Proyek AKCMM mencerminkan solidaritas Korea-ASEAN dalam menghadapi krisis iklim global melalui dukungan teknis dan finansial yang konkret,” kata LEE Chul.
Pada kesempatan yang sama, Wakil Sekretaris Jenderal ASEAN untuk Komunitas Sosial Budaya ASEAN, H.E. San Lwin, menambahkan, proyek ini sejalan dengan agenda pembangunan rendah karbon di kawasan Asia Tenggara.
"Proyek ini akan memperkuat kerja sama regional, meningkatkan kapasitas teknis negara anggota ASEAN, serta mendukung implementasi aksi iklim yang lebih praktis dan terukur," ucapnya.
Di sisi lain, Country Representative Global Green Growth Institute (GGGI) Indonesia, Rowan Fraser menerangkan, proyek tersebut juga dirancang untuk menjembatani kebijakan nasional dengan implementasi di tingkat daerah.
“Dengan memperbaiki sistem pengukuran emisi dan merancang skema pembiayaan yang tepat, kita tidak hanya mengurangi dampak gas rumah kaca, tetapi juga menciptakan efisiensi ekonomi dalam pengelolaan sampah di kota-kota besar Indonesia,” ujar Rowan.
Melalui proyek AKCMM, Indonesia diharapkan mampu memperkuat sistem pemantauan emisi, mendorong investasi hijau, serta mempercepat transformasi pengelolaan sampah menjadi bagian penting dalam strategi mitigasi perubahan iklim nasional.
Diketahui, proyek ini merupakan program kerja sama tiga tahun senilai USD 20 juta di bawah skema Partnership for ASEAN-ROK Methane Action (PARMA). Program tersebut didukung Pemerintah Republik Korea melalui ASEAN-Korea Cooperation Fund (AKCF).
Editor : Elva Setyaningrum