get app
inews
Aa Text
Read Next : Cegah Kebakaran Berulang, Pengelolaan TPA Jatiwaringin Terapkan Teknologi

Terobosan Teknologi Mampu Pangkas Emisi Metana dan Biaya Listrik di Tambang Indonesia

Jum'at, 15 Mei 2026 | 20:08 WIB
header img
Industri pertambangan Indonesia mulai mengadopsi teknologi penyimpanan energi grid-forming untuk mempercepat transisi hijau. [Foto: Ist]

JAKARTA, iNewsTangsel - Industri pertambangan di Indonesia kini tengah menghadapi tantangan besar dalam menekan emisi metana. Data Global Energy Monitor menunjukkan, tambang batu bara di Indonesia menghasilkan sekitar 58 juta ton CO₂e emisi metana per tahun. 

Transformasi menuju penggunaan energi hijau menjadi keharusan strategis untuk menjaga keberlanjutan operasional sekaligus memenuhi standar ESG global. 

Menjawab tantangan tersebut, teknologi penyimpanan energi grid-forming muncul sebagai solusi terintegrasi untuk menciptakan sistem kelistrikan yang mandiri dan stabil di area tambang. Berbeda dengan teknologi konvensional, sistem ini mampu mengatur tegangan dan frekuensi secara otomatis tanpa bergantung pada jaringan listrik utama.

Perwakilan praktisi energi hijau DOGO Power, Pan Pamela, menjelaskan bahwa layanan ini mencakup seluruh siklus operasional untuk mendukung transformasi industri yang lebih efisien. "Kami menawarkan dukungan bagi perusahaan tambang lokal menuju kegiatan operasional yang rendah karbon melalui arsitektur teknologi terpadu," ujar Pan Pamela, dalam keterangannya, Jumat (15/5/2026).

Sistem microgrid yang diterapkan mampu mengatasi kendala pasokan listrik di area terpencil yang selama ini sangat bergantung pada bahan bakar diesel. Dengan fitur black start, pemulihan daya hanya membutuhkan waktu dua menit sehingga risiko penghentian produksi akibat pemadaman dapat diminimalisir.

Penggunaan baterai standar tinggi dengan teknologi short-blade memastikan perangkat memiliki usia pakai yang awet hingga lebih dari 15 tahun. Ketahanan ini sangat krusial mengingat kondisi lingkungan pertambangan di Indonesia yang cenderung bersuhu tinggi dan sangat berdebu.

Implementasi kecerdasan buatan (AI) turut dilibatkan untuk memprediksi beban listrik dan produksi tenaga surya secara akurat dalam sistem manajemen energi. Integrasi AI ini terbukti mampu mempercepat siklus desain proyek berskala besar dari hitungan bulan menjadi hanya satu minggu saja.

Dari sisi ekonomi, peralihan ke sistem penyimpanan energi ini mampu memangkas biaya listrik secara signifikan sejak hari pertama diterapkan. Perusahaan dapat menghemat pengeluaran energi hingga 20 persen dibandingkan jika terus menggunakan pembangkit listrik tenaga diesel konvensional.

Selain efisiensi biaya, sistem ini memberikan nilai tambah berupa lingkungan kerja yang lebih sehat karena tingkat kebisingan dan emisi yang rendah. Hal ini secara langsung meningkatkan standar keselamatan kerja dan kenyamanan bagi para pekerja di area tambang off-grid.

Langkah ini diharapkan dapat membantu Indonesia mencapai target netralitas karbon sekaligus meningkatkan daya saing komoditas tambang di pasar internasional. Sinergi antara teknologi canggih dan kemitraan lokal menjadi kunci utama dalam mempercepat transisi energi nasional yang lebih tangguh.

Editor : Aris

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut